Friday, October 7, 2016

Lanjutan artikel Membaca dan menulis Not Angka, Not Balok

Membaca dan menulis Not Angka, Not Balok


Lanjutan artikel Membaca dan menulis Not Angka, Not Balok
5)

Garis lengkung


Seperti diuraikan sebelumnya, kadangkala beberapa not disatukan untuk berbagai keperluan. Ada kalanya beberapa not disatukan karena memiliki nilai yang sama. Ada pula yang disatukan karena hanya mewakili satu suku kata lagu tertentu. Namun, ada pula yang disatukan untuk memperpanjang nada tertentu. Penyatuan not itu dilakukan dengan menambahkan garis lengkung terhadap not-not yang disatukan tersebut.
Ada tiga macam garis lengkung, yaitu sebagai berikut,

a)
Garis lengkung melismatis, yaitu garis lengkung yang menyatukan not-not karena beberapa not tersebut hanya memiliki satu suku kata dalam teks lagu. Garis lengkung ini hanya dipakai dalam notasi musik yang memakai teks lagu.



b)
Garis lengkung legato. Istilah legato berasal dari kata legare yang berarti mengikat. Maksudnya adalah garis lengkung ini berfungsi untuk mengikat dua atau lebih not yang berbeda-beda dalam penyajian yang sambung-menyambung. Jika dinyanyikan secara vokal maka not-not dalam garis lengkung legato ini harus disajikan dalam satu embusan napas. Garis lengkung legato ditarik dari not pertama sampai not terakhir dari not-not yang diikat dalam satu kesatuan.



c)
Garis lengkung legatura. Garis lengkung legatura dipakai oleh sebuah not dan not berikutnya yang merupakan not perpanjangannya. Jadi, yang dihubungkan dengan garis lengkung legatura hanyalah not-not yang sama tinggi, terutama not-not perpanjangan yang melewati garis birama karena tiap awal birama harus dimulai dengan not tidak boleh dengan titik perpanjangan not sebelumnya.


6)

Tanda diam.

Dalam notasi musik, tanda diam dimaksudkan sebagai tanda tidak terjadinya nyanyian. Pada saat tersebut, penyanyi disarankan untuk mengambil napas sebagai persediaan menyanyi untuk nada-nada selanjutnya. Pada notasi angka, tanda diam berupa angka 0 (nol). Jika dalam sebuah baris lagu terdapat empat tanda 0 berturut-turut, itu berarti harus diam selama empat ketuk.
Pada notasi balok, tanda diam disimbolkan secara berbeda-beda sesuai panjang pendeknya yang sebanding dengan not.
Not-not balok juga diberi nama dengan huruf abjad A sampai G. Di atas not G dan di bawah not A, tujuh nama pokok tersebut diulang. Sebenarnya, not balok tidak menunjukkan tinggi rendahnya nada. Bentuk not balok hanya menunjukkan harga yang berhubungan dengan durasi nada (ketukan), sedangkan yang menunjukkan tinggi rendahnya nada adalah paranada. Dengan demikian, letak not-not balok pada paranada akan menentukan nama not-not tersebut.

Adapun untuk menaikkan, menurunkan, atau mengembalikan nada setinggi /2 nada digunakan tanda kromatis. Ada tiga tanda kromatis yang kita kenal, yaitu tanda kres (#) yang berfungsi untuk menaikan Vi nada. Lalu, untuk menurunkan nada setinggi V2 nada digunakan tanda mol (b). Sementara untuk mengembalikan nada ke tinggi semula digunakan tanda pugar (N). Di samping untuk menaikkan dan menurunkan nada, tanda kres dan mol juga dimanfaatkan untuk menuliskan tanda mula yang menentukan nada dasar sebuah notasi komposisi lagu. Untuk masalah ini, akan dibahas tersendiri dalam uraian selanjutnya.

Tinggi rendahnya nada dalam musik dapat menimbulkan suasana yang berbeda. Penggunaan nada-nada rendah akan menimbulkan suasana haru, sedangkan penggunaan nada-nada tinggi akan menimbulkan suasana gembira dan lincah.
7)

Tanda ulang.

Dalam sajian lagu, kita sering mendengar sebuah lagu yang dinyanyikan secara berulang. Kadang diulang secara keseluruhan, kadang yang diulang hanya sebagian. Kadang diulang dari awal, kadang yang diulang hanya bagian tertentu saja. Yang paling sering kita dengar adalah pengulangan lagu hanya bagian refreinnya saja. Dalam notasinya, tentu tidak seluruh lagu beserta pengulangannya ditulis. Akan banyak menghabiskan halaman kertas jika demikian. Oleh karena itu, untuk mengetahui pengulangan bagian-bagian lagu, mengenal cara-cara pengulangan lagu dengan pemakaian tanda ulang sangat diperlukan.

Tanda ulang ada bermacam-macam tergantung bagian mana yang akan diulang dalam sebuah notasi lagu. Berikut ini disajikan macam-macam tanda ulang, yaitu berupa garis penutup yang bertitik dua (:). Dua titik tersebut diletakkan di sebelah kanan garis birama awal pengulangan dan di kiri dua garis penutup.
Jika terdapat tanda ulang seperti itu, berarti seluruh penulisan lagu dalam apitan tanda titik dua (:) itu harus diulang dua kali, menjadi A-B-C-D-A-B-C-D.
Jika terdapat tanda ulang seperti di atas, dinyanyikan A-B-C-D-C - D. Terdapat beberapa pengulangan yang muncul pada penulisan lagu, yaitu sebagai berikut.

a) Pengulangan yang berbeda di bagian akhir. Cara ini dilakukan bila bagian yang diulang tidak tepat sama dengan ulangannya. Perhatikan contoh.
Penulisan lagu di atas harus dinyanyikan dengan urutan sebagai berikut.
A-B-C-D-E-F-G-A-B-C-D-E-F-H.
Pada pengulangannya ruas G tidak dinyanyikan lagi. Dari ruas F langsung melompat ke ruas H. Ruas G yang diberi tanda angka 1 disebut sebagai prima volta (bait pertama) dan ruas H yang diberi tanda angka 2 disebut secunda volta (bait kedua). Jadi, maksud untuk bait pertama lagu tersebut adalah dari A sampai G dan untuk bait kedua dari A sampai F lalu melompat ke H.

b) Pengulangan dengan bantuan istilah. Ada dua istilah untuk pengulangan lagu. Keduanya dalam bahasa Italia, yaitu:
D.C. al Fine (Da Capo al Fine): diulang dari awal dan berakhir pada tanda Fine.
D.S. al Fine (Da Segno al Fine): diulang dari tanda Segno.
Contoh di atas harus dinyanyikan A-B-.C-D-E-F-A-B.

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.