Wednesday, July 25, 2018

Jenis Karya Seni Rupa Terapan Daerah Nusantara Diantaranya Kerajinan Batik

Jenis Karya Seni Rupa Terapan Daerah Nusantara

Setelah mengenal dan mengetahui Pengertian Seni Rupa. Sekarang mengenal Jenis Karya Seni Rupa.

Dari setiap daerah yang ada di seantero nusantara ini memiliki hasil karya seni rupa terapan daerah. Yang mana masing-masing daerah ada ciri khasnya sendiri. Dari begitu banyak benda seni rupa terapan yang dihasilkan diberbagai daerah, diantaranya adalah Kerajian Batik.


Sejarah Kerajian Batik

Dalam perkembangan sejarah batik di Nusantara sangat berkaitan erat dengan perkembangan Kerajaan Majapahit dan kerajaan-kerajaan yang ada sesudahnya. Kain batik merupakan salah satu jenis karya yang dibuat dengan cara melukis dengan menggunakan canting serta kuas di atas kain dengan memakai bahan lilin yang dipanaskan. Hasil dari Proses membatik seperti ini di sebut dengan batik tulis. Adapun daerah penghasil batik yang tersebar di Nusantara, adalah sebagai berikut : 

a. Jawa Tengah dan Yoogyakarta

Proses Batik Tulis

Proses Batik Tulis

Jawa Tengah adalah salah satu daerah yang menghasilkan kain batik tergolong besar di Nusantara. Corak Batik Jawa Tengah memiliki ciri yang khas serta sarat dengan makna (filosofi). Diantara daerah penghasil batik di Jawa Tengah yang paling dikenal orang adalah batik Pekalongan, Solo, dan Semarang. Selaint itu Yogyakarta juga terkenal dengan batiknya.

1)  Batik Yogyakarta dan Solo (Surakarta).


Corak Batik Yogyakarta


Sejarah Batik Yogyakarta merupakan pengembangan dari batik Solo. Yang mana hubungan antara kedua daerah tersebut sangat erat sekali. Batik Yogyakarta dan Batik Solo memiliki filosofi dan lebih dominan berwarna coklat dan biru tua. Begitu terkenalnya batik ini sehingga ada sekitar 4000 motif batik yang berasal dari Yogyakarta. Motif batik dari yogyakarta berupa motif parang, babon angrem, dan wahyu tumurun. dan Motif batik Solo yang bermotif sidomukti, sidoluruh, dan lereng. Perbedaan Desain Batik Yogyakarta dan Solo terlihat pada gambar disamping.

2) Batik Pekalongan dan Semarang

Corak Batik Pelakongan
Batik  Pakalongan ini mempunyai corak dengan ciri pesisir dan corak ragam hias alami. Adapun corak dari Batik Pekalongan ini lebih banyak dipengaruhi oleh budaya Cina yang memiliki banyak corak warna yang lebih dominan dengan warna-warna cerah, hijau, kuning, merah dan merah muda dan juga di dominiasi motif bunga, lain lagi dengan batik semarang yang banyak di dominasi warna cokelat, kuning, hijau, dan hitam yang bermotif alam, seperti daun-daunan, bunga dan burung.

Corak Batik Semarang


Jawa Timur Adapun daerah-daerah penghasil batik yang berasal dari Jawa Timur diantaranya Madura, Tulungagung, Pacitan, Ponorogo, Mojokerto, Tuban dan masih banyak lagi yang lainnya. Batik Madura memiliki corak yang mengandalkan motif bunga-bunga yang unik dengan pola daun-daunan, dan juga terdapat beberapa motif bat tertua, seperti ramok, sebar jagab, rumput laut, okel, dan panji lintrik. Kebanyakan mengambil warna dari bahan-bahan alam dengan warna yang mencolok.
Corak Batik Tulungagung
Batik Tulungagung yang berwarna sogan (cokelat) serta biru tua dengan motif Lung (tumbuhan) dan bunga. Untuk batik Tuban, yang cukup dikenal adalah batik gedog yang memiliki ciri khas golongan batik pesisir. Adapun motif ini lebih mendominasi motif burung serta bunga. sedangkan batik Banyuwangi lebih terkenal dengan motif batik gajah uling, yang berbahan dasar kain berwarna putih.  


c. Batik Jawa Barat
Corak Batik Cirebon

Motif Batik Cirebon

Adapun daerah-daerah tempat penghasil batik dari Jawa Barat di antaranya adalah Cirebon dan Tasik Malaya. Batik Cirebon memiliki Corak motif mega, mendung yang memiliki kaya warna seperti cokelat, ungu, biru, hijau, merah, dan hitam. Batik Tasik Malaya yang terkenal adalah dengan batik sarian yang merupakan kumpulan dari berbagai macam motif gabungan dari motif kumeli, rereng, burung, kupu-kupu serta bunga. Batik tulis yang menjadi ciri khas dari Tasik Malaya ini biasanya menggunakan warna dasar merah, kuning, ungu, biru, hijau dan sogan dan motifnya lebih banyak memakai motif alam (natural).

d. Batik Bali


Corak Batik Bali
Motif Batik Bali
Di Bali diantara daerah yang menghasilkan batik yaitu Gianyar dan Denpasar, yang mana corak dari Batik bali ini mempunyai kebanyakan menyerupai gaya batik yang barasal dari Jawa. Akan tetapi batik Bali lebih dominan menggunakan warna-warna yang lebih cerah.

e. Batik Sumatera

Motif Batik Padang
Menyeberang ke daerah Sumatera, yang menjadi pusat daerah pengembang batik diantaranya adalah Padang (Sumatera Barat) dan Jambi. Padang terkenal dengan batik tanah liek. Adapun bahan pewarna batik Sumatera umumnya berasal dari bahan-bahan alami, seperti akar-akaran yang dicampur dengan tanah liat sehingga memiliki corak dan ciri khas tersendiri.

f. Batik Kalimantan


Motif Batik Kalimantan
Motif Batik Banjarmasin
Kalimantan juga memiliki batik yang terkenal yaitu berasal dari Banjarmasin (Kalimantan Timur). Kain batik yang digunakan adalah dengan jenis santung, katun, sutra, yuyur, dan satin. Batik dari daerah Banjarmasin ini memiliki motif yang bervariasi dan kebanyakan mengambil objek dari alam. Dinatara Motif-motif batik dari Banjarmasin yaitu dengan bentuk irisan daun pudak, daun bayam, dan jamur kecil.

Selebihnya baca tentang hasil karya seni rupa terapan daerah setempat yaitu : Karajinan Ukir, Kerajinan Anyaman, Kerajinan Topeng, Kerajinan Tenun, Kerajinan Wayang dan Kerajinan Keramik.
Readmore → Jenis Karya Seni Rupa Terapan Daerah Nusantara Diantaranya Kerajinan Batik

Sunday, July 22, 2018

Seni Karya, Tari Balet, Mengidentifikasi, Seni Rupa, Mancanegara, Musik, Asia

Mengidentifikasi Karya Seni Tari Mancanegara di Luar Asia


Tari mancanegara adalah tarian yang berasal dari mancanegara atau luar Nusantara. Tarian di mancanegara luar Asia memiliki keragaman dan keunikan yang tentu berbeda dengan di kawasan Asia. Perkembangan seni, termasuk seni tari terjadi secara alami dan sesuai dengan tuntutan zaman. Dengan kata lain, perkembangan seni, termasuk seni tari tidak terlepas dari perkembangan dan pertumbuhan budaya pemiliknya. Oleh karena itu, muncul keragaman seni tari, baik di Nusantara maupun mancanegara. Berikut ini akan dipaparkan mengenai beberapa jenis tarian mancanegara luar Asia.
Balet

Tari balet dikembangkan pertama kali di Italia, kemudian di Prancis dikembangkan dengan mengombinasikan musik, drama, puisi, nyanyian, kostum, dan tarian. Awalnya, anggota penari balet terdiri dari para bangsawan yang mengambil bagian sebagai pemain sandiwara. Sepanjang pemerintahan Louis XIV, yang juga seorang penari, kesenian tarian dilindungi. Seiring perkembangan zaman, penari profesional mulai mencari penari-penari amatir. Para guru tari balet mendapat izin dari Pemerintah Prancis untuk mendirikan sekolah balet yang pertama, yaitu Academie Ro\/alcde Danse yang dibuka di Paris pada tahun 1661. Tidak lama kemudian, kelompok tari balet dilembagakan untuk yang pertama kali, asosiasi akademi juga dibentuk. Kelompok tersebut semula diiringi ansambel yang dimainkan oleh kaum wanita.
Sepanjang abad ke-18 tari balet masih sering dilakukan di samping puisi atau opera. Akan tetapi, gagasan pertunjukan balet masih terpisah dari menyanyi atau dialog. Sebagai gantinya, digunakan pelawak untuk menceritakan isi (tema) tari balet tersebut. Penari wanita profesional mulai mengambil tempat dalam pementasan. Pada awalnya, karena norma-norma sosial mereka melakukan dengan sepatu berhak tinggi serta rok panjang. Akan tetapi, pada perkembangannya mereka menggunakan rok pendek yang kaku dan berbulu halus, rok semacam itu disebut lutus.



Perubahan kostum dibuat, terutama untuk wanita-wanita. Perubahan ini sebagai bagian hasil Revolusi Prancis. Sepatu berhak tinggi digantikan dengan sandal, sedangkan korset dan rok longgar diganti dengan pakaian ketat. Beberapa penari balet wanita, seperti Fanny Elssler dan Marie Taglioni, mengganti sandal dengan sepatu sandal agar mampu melakukan gerakan naik dengan cepat. Ada tujuh gerakan yang disusun pada tahun 1796 dalam tarian balet, yaitu melentur, naik, meregang, meluncur, melompat, memutar, dan bergerak cepat.

Pada periode waktu antara 1830-1870 digolongkan sebagai zaman romantis dalam tari balet. Format untuk tari balet yang dikembangkan pada periode ini mengambil tema dunia nyata dan dunia tidak nyata. Kebanyakan penari balet wanita melukiskan peri yang memakai gaun putih yang sekarang disebut sebagai tutus romantis. Tari balet yang diciptakan selama kurun waktu ini mencakup Gizelle (1841), La Sylphide (1832), dan Coppelia (1870). Zaman romantis mengalami masa di mana tari balet hilang ketenarannya di Eropa Barat. Hal ini dikarenakan adanya kompetisi musik yang cenderung digemari daripada balet. Selain itu, disebabkan ketiadaan peneipta seni tari balet dan penari pria yang kuat.

St. Petersburg menjadi pusat tari balet sepanjang pertengahan abad yang ke-19. Format seni didukung oleh kaisar (Rusia) dan didukung juga dengan keberhasilan tari balet kerajaan, tari balet sekolah, tari balet Kirov, dan bakat Marius Petipa. Rok pendek mulai digunakan pada masa ini.

Banyak cerita tari balet, seperti The Nutcracker, Doti Quixote, Swan Lake, The Sleeping Beauty, dan Le Corsairc diproduksi selama periode ini. Pada masa Revolusi Rusia pertunjukan seni dilarang, tetapi Nicholas Sergeyev berhasil menyelundupkan dokumen notasi lagu dan koreografi tari balet kerajaan ke luar Rusia dan ke negara Barat. Oleh karena itu, banyak tari balet yang selamat dan masih dilakukan sampai sekarang.

Impresario Rusia Serge Diaghilev adalah pengiring instrumental tari balet Eropa Barat dan mengalami perubahan (evolusi) sampai abad ke-20. Serge Diaghilev bukan seorang penari ataupun peneipta balet, tetapi sangat menyukai balet dan berusaha melindungi balet. Ia menyatukan komposer Rusia, penari, koreografer balet, dan para perancang untuk membentuk kelompok Diaghilev Ballet Russes. Kelompok ini berkeliling Eropa dan Amerika Serikat. Diaghilev adalah tokoh yang terkemuka dalam tari balet, ia berjasa dalam meluncurkan karier seniman, seperti Anna Pavlova, Michel Fokine, Vaslav Nijinsky, dan George Balanchine.

Setelah kematian Diaghilev, kelompok ini bubar. Banyak dari penarinya keliling Eropa Barat dan Amerika Serikat. Michel Fokine bergabung derngan American Ballet Theater di tahun 1940 sebagai koreografer tari balet rakyat. George Balanchine juga datang ke Amerika dan singgah di New York City Ballet pada tahun 1934. Sementara, Balanchine mengembangkan apa yang kini dikenal sebagai balet gaya nco-classical.

Pada awal abad ke-20, ada suatu ledakan inovasi dalam gaya tarian yang ditandai oleh suatu eksplorasi gerak. Pelopor tarian modem, meliputi: Loie Fuller, Isadora Duncan, Mary Wigman, dan Ruth St. Denis. Musik pengiringnya sebagai basis untuk keserasian gerak tubuh. Selain itu, pemikiran Emile Jaques-Dalcroze sangat berpengaruh dalam perkembangan tari modem dan tari balet modem. Pengaruh tersebut dibawa para seniman terkenal, seperti Marie Rambert.

Keserasian gerak tubuh dikembangkan oleh Rudolf Steiner dan Lori Maier-Smits yang menggabungkan unsur-unsur formal tarian tradisional dengan gaya baru. Selain itu, mereka memperkenalkan istilah-istilah baru dalam seni tari. Pada tahun 1920-an, muncul gaya baru yang dibawa oleh seniman tari, seperti Martha Graham dan Doris Humphrey. Sejak itu gaya tarian kreasi baru dikembangkan secara luas.

Tari balet juga merambah Australia. Tari balet klasik mencakup tari balet Australia. Tari balet tersebut, meliputi: Australian Dattce Theater, Bnngarra Dattce Theater, Leigh Warreti & Dancers, dan Sydney Dance Cotnpany.
Readmore → Seni Karya, Tari Balet, Mengidentifikasi, Seni Rupa, Mancanegara, Musik, Asia

Wednesday, July 11, 2018

Cabang-Cabang Seni Rupa, Seni Patung, Seni Lukis, Seni Grafis, Seni Kriya

Keindahan dalam seni rupa adalah nilai-nilai estetik yang menyertai sebuah karya seni rupa, baik yang dwimatra maupun yang trimatra. Sedangkan media dalam pembuatan seni rupa sangat bervariasi. Keragaman dalam penggunaan media ini menyebabkan munculnya berbagai jenis karya seni rupa. Pada bab ini, kamu akan mempelajari bentuk dan fungsi karya seni rupa, cabang-cabang seni rupa, dan kegiatan apresiasi terhadap karya seni rupa, khususnya seni terapan yang ada di daerahmu dan di Nusantara.

Bentuk dan Fungsi Karya Seni Rupa

Berdasarkan bentuknya, karya seni rupa terbagi atas seni rupa dua dimensi (dwimatra) dan tiga dimensi (trimatra). Ciri seni rupa dua dimensi hanya dapat dinikmati dari satu arah, karena hanya memiliki ukuran panjang dan lebar, misalnya lukisan, kain batik, seni fotografi, dan sebagainya. Sedangkan seni rupa tiga dimensi dapat dilihat atau dinikmati dari berbagai arah, karena memiliki ukuran panjang, lebar, dan tinggi, misalnya patimg, meja, kursi, dan sebagainya. Berdasarkan fungsinya, karya seni rupa dapat digolong-kan menjadi dua, yaitu sebagai seni pakai (applied art) dan seni yang berfungsi sebagai hiasan saja (fine art).

Cabang-Cabang Seni Rupa

Setiap jenis karya seni rupa memiliki bentuk dan ciri khusus. 
Menurut cirinya, karya seni rupa dapat dibagi dalam beberapa cabang, yaitu sebagai berikut. 
     Cabang-Cabang Seni Rupa
  • Seni patung. Seni patung merupakan perwujudan ekspresi dan gagasan ke dalam karya tiga dimensi. Kemajuan seni patung di Indonesia ditandai sejak zaman Hindu-Buddha yang diwujudkan dalam bentuk arca dan relief dari batu. Patimg yang berukuran besar sering diwujudkan sebagai monumen, misalnya patung Garuda Wisnu Kencana di Bali, patung Selamat Datang di Jakarta, dan patung-patung bertema perjuangan yang tersebar di wilayah tanah air. Seni patung dalam ukuran kecil umumnya terdapat pada benda-benda kerajinan yang kebanyakan berbahan kayu, batu marmer, dan fiber. 
  • Seni lukis. Seni lukis berwujud dua dimensi. Seni lukis biasanya dibuat di atas media kain kanvas, kertas, dan kaca. Peralatan yang digunakan untuk menggambar atau melukis dapat berupa cat minyak (acrylic), cat air, cat poster, dan sebagainya. Gaya penggambaran dalam melukis juga sangat beragam, yang dinamakan aliran. Aliran atau corak dalam seni lukis ini merupakan ciri khas dan keunikan yang terdapat pada karya-karya tersebut. Ada aliran realis, naturalis, ekspresionis, impresionis, abstrak, surealis, maupun romantis. Sejarah seni lukis di Indonesia dipenuhi para pelukis handal seperti Raden Saleh (perintis seni lukis Indonesia, yang hidup pada zaman perang Diponegoro), S. Sudjojono, Henk Ngantung, Affandi, Basoeki Abdullah, Pimgadi, dan masih banyak lagi.
 Seni Lukis yang Mengisahkan Pahlawan Diponegoro
  • Seni grafis.  Seni grafis adalah seni membuat gambar dengan alat cetak (klise). Misalnya, sablon (cetak saring), cukil kayu (cetakan), etsa (pengasahan pada bahan metal), dan percetakan dengan bahan batu litho.
  • Seni kriya Seni kriya berwujud dua atau tiga dimensi. Seni kriya sering disebut sebagai seni kerajinan, yaitu seni yang dibuat untuk menyajikan kebutuhan hidup sehari-hari. Tumbuh suburnya seni kriya di tanah air erat kaitannya dengan nilai komersial. Setiap pengrajin akan membuat beberapa benda pada setiap jenis seni kriya yang dibuatnya. Termasuk dalam golongan seni kriya, antara lain seni pahat, seni anyam, keramik, batik, dan tenun. 
  • Seni desain Desain dalam pengertian yang sebenarnya adalah suatu gambar rancangan. Namun pengertian seni desain di sini penekanannya ialah pada produk yang dihasilkan. Sejalan dengan perkembangan industrialisasi, seni desain telah dianggap sebagai cabang seni tersendiri dalam seni rupa, karena proses, teknik, dan bentuknya yang juga memiliki kekhasan tersendiri sesuai dengan perkembangan teknologi modem. Seni desain terbagi dalam beberapa cabang, namun ada dua kelompok seni desain yang sudah populer, yaitu sebagai berikut.
  • Desain Komunikasi Visual (Graphic Design/Sequential Art) Perwujudan dari desain komunikasi visual mengarah ke desain grafis, seperti poster iklan, brosur, sampul buku atau majalah, kemasan, logo, undangan, dan lain-lain. 
  • Desain Produk (Product Design) Desain produk berwujud peralatan dan benda kebutuhan sehari-hari. Misalnya, perlengkapan rumah tangga, alat transportasi, pakaian, perumahan, peralatan elektronik, dan sebagainya.

Kegiatan Apresiasi Karya Seni Rupa



Apresiasi memiliki arti penting, baik bagi pencipta karya seni maupun bagi pengguna karya seni. Apresiasi merupakan sarana penghubung di antara keduanya. Pencipta karya seni dalam hal ini adalah seniman, desainer, atau pengrajin yang telah memvisualisasikan ide-ide kreatifnya. Sedangkan pengguna karya seni adalah penikmat atau masyarakat. Arti kata apresiasi sendiri adalah suatu penghargaan (iappreciate). Dengan demikian, jika masyarakat memiliki apresiasi yang tinggi terhadap suatu karya seni maka hal itu ibarat lahan yang subur untuk tumbuh dan berkembangnya karya-karya kreatif berikutnya. 

Bentuk apresiasi Kegiatan apresiasi terhadap karya seni rupa dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu secara langsung atau tidak langsung. 
  • Apresiasi secara langsung Proses apresiasi secara langsung dilakukan apabila pengamat berhadapan langsung dengan wujud karya seni yang diapresiasi. Dalam hal ini, pengamat dapat menilai dengan jelas bentuk, warna, tekstur, dan unsur- unsur lainnya. Pengamatan langsung dapat dilakukan dengan mengunjungi tempat-tempat pusat kerajinan, ke museum, galeri, dan lain-lain. 
  • Apresiasi secara tidak langsung Proses apresiasi secara tidak langsung dilakukan melalui bantuan media tertentu. Misalnya, dari buku, foto reproduksi, media cetak, media elektronik, dan lain-lain. Apresiasi secara tidak langsung ini memang dapat dilakukan di sembarang tempat. Namun pengamatan terhadap objek karya tidak didapatkan dengan peng-hayatan secara mendalam. 
Tahapan dalam proses apresiasi

Untuk melakukan kegiatan apresiasi, setidaknya perlu diketahui bentuk dan tahapan dalam proses apresiasi, yaitu sebagai berikut. 
  • Pengamatan terhadap objek karya Kegiatan apresiasi diawali dengan pengamatan terhadap objek karya. Dalam hal ini, pengamat berhadapan dengan karya yang diapresiasi, misalnya patung, karya batik, wayang, karya kerajinan, dan sebagainya. 
  • Pemahaman atau penghayatan terhadap karya seni Tahap kedua adalah upaya memahami atau menghayati karya seni tersebut. Melalui pemahaman atau penghayatan tersebut, pengamat telah melakukan usaha untuk mengetahui lebih jauh tentang unsur-unsur rupa serta keunikan lainnya yang terdapat pada objek karya. 
  • Penilaian dan penghargaan (apresiasi) Pada tahap ini, dilakukan pengambilan keputusan tentang seberapa bernilai atau berharganya suatu karya. Penilaian tersebut tentunya didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan yang objektif.
Readmore → Cabang-Cabang Seni Rupa, Seni Patung, Seni Lukis, Seni Grafis, Seni Kriya

Sunday, May 7, 2017

Jenis-Jenis Seni Teater Yang Ada Di Jawa

Jenis-Jenis Seni Teater Yang Ada Di Jawa. Seni teater di Indonesia terdiri atas dua jenis, yaitu teater tradisional dan teater nontradisional (modern). Teater tradisional di Indonesia dimulai sejak sebelum zaman Hindu. Dalam bukunya, Kasim Ahmad (2006) menyebutkan bahwa terdapat unsur-unsur teater tradisional yang digunakan untuk mendukung upacara ritual. Teater tradisional merupakan bagian dari suatu upacara keagamaan ataupun upacara adat-istiadat dalam tata cara kehidupan masya-rakat kita. Pada saat itu, yang disebut "teater", sebenarnya baru merupakan unsur-unsur teater, dan belum merupakan suatu bentuk kesatuan teater yang utuh. Setelah melepaskan diri dari kaitan upacara, unsur-unsur teater tersebut membentuk suatu seni pertunjukan yang lahir dari spontanitas rakyat dalam masyarakat lingkungannya.

Proses terjadinya atau munculnya teater tradisional di Indonesia sangat bervariasi dari satu daerah dengan daerah lainnya. Hal ini terjadi karena oleh unsur-unsur pembentuk teater tradisional itu berbeda-beda, tergantung kondisi dan sikap budaya masyarakat, sumber dan tata-cara di mana teater tradisional lahir.

Seni teater tradisional di Indonesia lahir dari kebudayaan daerah setempat yang mana para seniman daerah tersebut mengembangkan dan mengemas sedemikian rupa sehingga melahirkan karya seni khususnya seni teater yang bernuansa daerah. Sementara itu, seni teater nontradisional (modern) yaitu seni teater yang di dalamnya terdapat beberapa hal perubahan yang mengadopsi teater luar, misalnya naskah drama, tata busana, tata panggung, dan sebagainya. Apa saja jenis teater yang ada di daerahmu? Yuk, kita pelajari jenis teater yang ada di daerahmu.

a. Jawa Barat

Jawa Barat merupakan salah satu wilayah yang subur dengan berbagai kesenian dan pertunjukan. Teater daerah/tradisional Jawa Barat dipentaskan sebagai hiburan pelepas lelah. Beberapa drama yang terdapat di Jawa Barat adalah ogel, longser, banjet, topeng Cirebon, ubrug, reog, angklung badud, dan wayang golek.

  1. Ogel. Ogel adalah lawakan santai tentang kehidupan manusia. Iringan musik kendang, terompet, dan angklung mengiringi pertunjukan ini. Teater rakyat Jawa Barat rata-rata dipentaskan sebagai hiburan pelepas lelah setelah seharian penat menjalankan tugas. Ogel diperagakan oleh rakyat daerah setempat. Bentuknya berupa lawakan-lawakan santai yang menyegarkan tentang kehidupan manusia. Pementasannya diiringi musik kendang, terompet, dan angklung.
  2. Longser. Longser adalah kelompok teater tradisional yang tumbuh dan berkembang di Conggang, Sumedang. Isinya juga bercerita tentang kehidupan manusia. Longser memiliki unsur tari, pencak silat, dan lawakan. Pengiring longer adalah musik gamelan.
  3. Banjet. Banjet merupakan teater tradisional yang sering dipentaskan di daerah Cikampek dan Karawang. Bentuk dan isi ceritanya hampir sama dengan longser. Musik pengiringnya berasal dari kendang, rebab, kecrek, dan kromong.
  4. Topeng Cirebon. Topeng Cirebon adalah teater tradisional yang dalam pementasannya para pemain menggunakan topeng dan pengungkapan isi ceritanya lewat seorang dalang. Pemain cukup memperagakan gerak seperti halnya drama tari. Topeng Cirebon ini mi rip dengan wayang golek. Cerita yang dipentaskan adalah cerita Menak, Ramayana, dan Mahabarata.
  5. Reog. Reog adalah jenis teater tradisional Jawa Barat yang dimainkan oleh lima orang. Pada pertunjukannya, kelima pemain keluar secara bersamaan. Reog men-ceritakan tentang kehidupan manusia dengan latar belakang kehidupan berbeda-beda. Pemain harus peka terhadap situasi dan kondisi keadaan masyarakat agar dapat berimprovisasi dengan lawakannya. Lawakan tersebut berisi sindiran dan pertunjukannya diiringi nyanyian dan permainan musik gendang.
  6. Angklung Badud. Drama ini mirip dengan reog. Busananya sederhana dengan alat musik berupa tong-tong. Lawakannya bukan kritik tajam, melainkan cerita seputar wilayah tersebut. Pemainnya masuk panggung satu per satu.
  7. Wayang Golek. Wayang golek juga termasuk ke dalam seni teater atau lebih tepatnya disebut teater boneka. Hal itu karena pertunjukan wayang golek diperankan oleh boneka-boneka yang dimainkan oleh seorang dalang. Seperti pertunjukan teater lainnya, wayang golek pun memiliki alur cerita yang biasanya diambil dari kisah-kisah Ramayana dan Mahabarata (Hindu), Amir Hamzah (Islam), maupun cerita babad lokal lainnya.

Jenis-Jenis Teater Indodnesia

b. Jawa Tengah dan Jawa Timur


Di Jawa Tengah terkenal pertunjukan ketoprak, wayang orang, srandul, dan wayang kulit. Adapun di Jawa Timur terkenal pertunjukan ludruk. Umumnya pertunjukan drama dari kedua daerah ini memiliki alur yang panjang dan terdiri atas beberapa adegan. Ceritanya berasal dari Ramayana, Mahabarata, sejarah, dongeng, ataupun legenda.

1) Ketoprak

Ketoprak merupakan pertunjukan yang menggabungkan seni peran, vokal, dan gerak tari. Ketoprak awal mulanya berupa potongan-potongan babak yang dipentaskan secara keliling dengan iringan alat musik lesung (penumbuk padi) dan kentongan bambu. Pada perkembangannya, ketoprak dipentaskan secara utuh dengan jumlah personil sesuai dengan cerita yang dipentaskan berikut tempat atau panggung yang tertata baik, dan diiringi musik gamelan.

Selain seni peran, ketoprak menampilkan olah vokal, gerak tari, dan nyanyian. Para pemerannya harus betul-betul terlatih.

Untuk nyanyiannya, para pemain dibantu juga oleh waranggono/sinden (penyanyi tembang Jawa) dan para niyaga (penabuh gamelan).

2) Wayang Orang

Wayang orang merupakan pertunjukan yang dikemas lewat tarian, tembang, atau-pun adegan perkelahian. Wayang orang mementaskan cerita pewayangan dari kitab Ramayana dan Mahabarata. Hanya bedanya, para tokoh diperankan oleh orang. Para pemain wayang orang mem-pertunjukkan peranannya lewat tarian dan tembang/nyanyian. Bahkan adegan perkelahian pun ditarikan. Dalam melakukan dialog pun ada istilah ontowecana atau pembicaraan yang disertai gerak tangan. Pemain wayang orang harus bisa menari dan olah vokal. Tiap tokoh memiliki ciri khas busana, nada suara/cara bicara, dan gerak-gerik. yang menunjukkan karakternya. Satu tokoh berbeda dengan tokoh yang lain. Seorang pemain wayang orang yang kawakan bisa memainkan hampir semua tokoh yang ada dalam pertunjukan drama ini. Dalam pementasannya, ada seorang dalang dan beberapa sinden yang berfungsi sebagai narator (pencerita). Mereka ini memberikan suasana yang berbeda dan pengantar bagi jejer/adegan yang akan terjadi.

3) Srandul

Srandul merupakan drama tradisional yang terdapat di pesisir utara Jawa, ada srandul yang berkisah cerita Menak dan dipertun-jukan di atas panggung terbuka. Jumlah pemainnya lebih sedikit daripada wayang orang dengan busana orang Arab/Turki.
Biasanya diiringi gamelan, rebana, kecrek, dan terompet. Penonton diajak interaktif dengan pemain. Tiap adegan ditandai suara kentongan dan kecrek.

4) Ludruk

Di Jawa Timur terdapat seni pertunjukan ludruk. Ludruk adalah ketopraknya Jawa Timur. Bahasa yang digunakan dalam ludruk adalah bahasa Jawa dengan menggunakan dialek Jawa Timur-an. Perkembangan ludruk di Jawa Timur sangat pesat. Hal ini terbukti dari perkembangannya yang menyebar ke daerah-daerah sebelah barat seperti karesidenan Madiun, Kediri, bahkan sampai ke Jawa Tengah. Meskipun telah mengalami perkembangannya, ciri khas bahasa dalam ludruk ini masih menggunakan dialek Jawa Timur. Akan tetapi, seiring perkembangannya, bahasa dialek Jawa Timur tersebut mulai luntur dengan dialek bahasa Jawa daerah setempat.

Peralatan musik daerah yang digunakan dalam ludruk adalah kendang, kempul, cimplung, jidor, dan gambang. Sementara itu, lagu-lagu yang digunakan dalam permainan ludruk yaitu Parionyar, Beskalan, Kaloagen, Jula-juli, dan Junian. Cerita yang sering dimainkan ludruk diambil dari sejarah, dongeng, legenda, atau tentang para warok (jagoan khas Jawa) yang sakti mandraguna.

Pemain ludruk semuanya adalah pria. Meskipun di dalam cerita yang dimainkan terdapat peran seorang wanita, tetap saja peran itu dimainkan oleh pria. Mengapa peran wanita dimainkan oleh seorang pria? Hal ini terjadi karena pada zaman tersebut, wanita tidak diperkenankan muncul di muka umum. Dalam pementasannya, ludruk selalu diawali dengan tari Ngremo. Ludruk juga mempunyai bagian lawakan dengan sindiran-sindiran yang tajam menyegarkan.
Readmore → Jenis-Jenis Seni Teater Yang Ada Di Jawa

Monday, May 1, 2017

Perkembangan Aliran Modern Tahap Ke-2 | Fauvisme | Kubisme | Surealisme | Abstraksionisme | Futurieme | Dadaisme (1916) | Aliran Pop | Aliran Optim dan Kinetik

Perkembangan Aliran Modern Tahap Ke-2


Perkembangan kebebasan pribadi dalam membuat karya seni, sangat erat dengan kebijakan politik yang berkembang. Kebebasan bereksperimen, kebebasan mengungkapkan ide dan gagasan melahirkan pro dan kontra. Pemberitaan tentang penemuan-penemuan, begitu menarik untuk dibicarakan para pengamat seni.

Berita-berita tentang perkembangan seni tidak terlepa dari peranan kritikus-kritikus yang membesarkan nama-nama seniman hingga sangat terkenal, hingga akhirnya karya tersebut menjadi suatu kebanggaan bagi kolektornya.

1. Fauvisme


Dalam usia yang tidak lama sekitar 5 tahun, aliran ini telah membuat sensansi yang luar biasa, karena pengaruhnya pada kebebasan pada abad 20. Dasarnya adalah "Cinta Melukis", sehingga tidak menuntut pengertian apa-apa. Kelompok radikal ini terdiri dari Henri Matisse, Derain, Vlaminck, Rousult, Rfiez, Marquet, Van Dongen, dan Dufy.


2. Kubisme

Dengan mendapat pengaruh dari bapak pelukis modern, Cezane pada tahun 1907, lahirlah pelukis Georges Brague (Prancis) dan Pablo Picasso (Spanyol) yang kemudian menjadi tokoh aliran kubisme.
Dalam perwujudannya ada dua teknik, yaitu :
  • Kubisme Analitik : memecah obyek menjadi bentuk-bentuk geometris.
  • Kubisme Sintetik : membentuk obyek dari bentuk-bentuk geometris.

Tokoh-tokoh lain dari aliran ini : Juan Gris, dan Firnand Leger.

3. Surealisme

Didasari oleh teori ilmu jiwa dari Freud tentang alam pikiran manusia, yaitu adalah alam sadar dan tidak sadar - sesuatu yang sudah terlupakan kadang muncul kembali dalam ingatan (alam sadar). Dalam aliran Surealisme, dunia nyata dan dunia tidak nyata berpadu dalam suatu karya seni yang menakjubkan, terkadang terasa berada di alam mimpi yang fantastik.

Menurut bentuknya surealisme dapat dibagi 2, yaitu :

a. Surealisme Fotografi, yaitu penggambaran yang realistik meskipun tidak wajar dengan para penganutnya :
- Salvador Dali (Spanyol)
- Yves Tangguy (Perancis)
- Max Ernst (German)
- Odilon Redon (Perancis)
- Marc Chagall (Rusia)

b. Surealisme Amorphic: mendekati lukisan abstrak tanpa didikte alam pikirannya, dengan para penganut :
- Joan Miro (Spanyol 1933)
- Andre Masson (perancis)

4. Abstraksionisme

Dalam hal ini ada dua pengertian, yaitu :
a.  Mengambil suatu unsur atau bagian suatu obyek/abstraksi dari paham Kubisme.
b. Non-Obyektivisme, yaitu tanpa hubungan dengan bentuk alam, dan inilah yang dimaksud Abstraksionisme, yang didalamnya teradapat :
- Ekspresionisme Abstrak dengan tokohnya Wessily Kandinsky.
- Abastraksionisme Geometrik dengan tokohnya Piet Mondrian.

5. Futurisme


Aliran ini lebih menonjolkan "gerak" dalam lukisannya, misalnya dengan pengulangan bentuk dengan warna-warna yang terkontrol baik, sehingga terasa berkesan gerakannya maju. Tokohnya: G. Balia, Duchamp, dan Boccioni.

6. Dadaisme (1916)


Aliran ini seolah menampakkan anti soni. Mercka hanya membuat Kejutan baru (sensasi), tetapi dalam usia yang tidak lama, misalnya peniruan Monalisa yang dibubuhi kumis, susunan karcis bis yang sudah usang, kelopak mata yang robek, pemotretan yang dikerat-kerat secara mengerikan, dan kancing-kancing yang copot.

Aliran ini muncul akibat Perang Dunia I, yang membuat para seniman tampak kecewa, bahkan putus asa dengan meletusnya perang tersebut, terutama para seniman bangsa Jerman. Hal ini menjalar terus ke seluruh dunia, baik Perancis, dan Amerika. Tokoh-tokoh aliran Dadaisme:

- Marcel Duchamp (pameran Dadaisme tahun 1914)
- Tristan Tzara (Rusia)
- Hans Arp (Perancis)

7. Aliran Pop

Aliran ini berpandangan untilk masa kini dan masa yang akan datang; merupakan fakta dari kehidupan modern.

Contoh seniman aliran Pop berikut karyanya antara lain:
- Tom Wasselman dengan lukisan kamar mandi dan kakus.
- George Segall, "Patung Rock & Roll" dari Gips.
- Yoseph Beny S. dengan bekas cat yang dipagar.

Aliran ini mula-mula berkembang di Amerika Serikat tahun 1956 dengan nama "Popular Images". Dalam proses penciptaannya mereka memanfaatkan barang-barang bekas, seperti botol kecap, sepatu, dan barang-barang rongsokan.

8. Aliran Optim dan Kinetik


Pengulangan bentuk geometris atau garis-garis yang teratur rapi dan terperinci, dan kadang lukisan tampak menonjol ke luar atau menjolok jauh ke dalam inilah gambaran sepintas dan hasil lukisan yang beraliran Optik.

Lukisan ini tidak menuntut pengertian para penikmat lukisan. Bcntuknya cukup sederhana sekali, namun diproses secara ilmiah hingga tampak unik dan menarik, tidak jarang memukau penonton karena rasa penasaran terhadap hasil pandangannya yang seolah tidak yakin keadaannya. Tidak lama kemudian tersebarlah jenis poster dan produk tekstil yang berupa hiasan dinding, karpet, dan gordening.

Lukisan Aliran OP atau OPTICAL ART berkembang tahun 1960 sejak pameran "The Responsive Eye" yang diselenggarakan di New York, Amerika Serikat.
Tokohnya:
- Vasarely (seniman Perancis kelahiran Hongaria)
- Richard Anus Zkieuwiez
- Yulian Stanczak
- Andy Warkol

Aliran ini sangat bertentangan dengan lukisan Jakson Pollock dan W. de Kooning yang menggunakan teknik "Kaleng Bocor". Namun, secara fisik, Optik merupakan kelanjutan dari Abstrakisme geometric-nya Piet Mondrian dan aliran Futurisme.

Readmore → Perkembangan Aliran Modern Tahap Ke-2 | Fauvisme | Kubisme | Surealisme | Abstraksionisme | Futurieme | Dadaisme (1916) | Aliran Pop | Aliran Optim dan Kinetik

Apresiasi Seni Rupa | Modern Mancanegara | Nusantara | Seni Klasik | Kontemporer | Seni Rupa Barat | Awal Perkembangan Seni Modern

Apresiasi Seni Rupa Modern Mancanegara dan Nusantara

Pengertian Apresiasi Seni Rupa 

Semua karya seni dapat dinilai berdasarkan kriteria yang ada. Jika seni rupa modern merupakan karya seni rupa yang memiliki ciri khas individual seperti ciri khas Affandi yang melukis tanpa kuas, sangat berlainan dengan lukisan Popo Iskandar yang melukis menggunakan kuas besar. Muncul penghargaan pada ciri pribadi perseorangan, sejak Cezane di Eropa melahirkan aliran Impresionis.

Seniman modern di Eropa pengaruhnya menjalar ke seluruh dunia hingga di Indonesia. Semua masyarakat di Indonesia yang awam, banyak mencemooh penemuan-penemuan yang sensasional dari masyarakat Eropa seperti teknik kaleng bocornya Jakson Pollock yang melukis dengan cipratan cat keluar dari kaleng berlubang. Namun, ketika motif tekstil dibuat meniru motif Jakson Pollock ternyata banyak digemari masyarakat dunia. Kini pakaian, kain gordeng, taplak, dasi, karpet, permadani, dan lain-lainnya, banyak meniru penemuan-penemuan seniman murni.

Di Indonesia penghargaan terhadap penemuan baru dalam dunia seni mulai muncul sejak lahirnya perguruan tinggi seni. Alangkah baiknya jika anda sekarang ini di bangku SMA, banyak berbuat menemukan sesuatu khususnya dalam karya seni yang bermanfaat bagi kehidupan. Untuk itu, peranan apresiasi seni sangat mutlak diperlukan.

Apresiasi Seni Rupa | Modern Mancanegara | Nusantara | Seni Klasik | Kontemporer | Seni Rupa Barat | Awal Perkembangan Seni Modern

Apresiasi Seni Klasik, Modern dan Kontemporer

1. Seni Rupa Barat Klasik

Lahir sejak zaman Yunani Kuno. Dewa-dewa mereka dipatungkan sebagai wujud manusia, tetapi lebih besar dan lebih sempurna. Proporsi bentuk manusia berikut anatominya sangat diperhatikan. Selain itu mereka juga membuat patung tokoh-tokoh sejarah, filosof, dan olahragawan mereka sendiri, patung Perikles, Plato, atau Aristoteles. Lipatan-lipatan kain pada patung diusahakan sepersis-persisnya. Lukisan-lukisan Yunani banyak ditemukan pada jambangan kermik yang beremail.
Atas jasa Iskandar Zulkarnain maka kebudayaan Yunani yang disebut Hellenisme menyebar ke Timur dan mempengaruhi seni acara Budha di India (seni Gandara). Pada zaman kekaisaran Romawi, seni rupa klasik Barat semakin realitis dan manusiawi. Banyak tokoh-tokoh Negarawan terkenal yang dibuat patung, seperti Caesar, Agustus, Hanibal, dan Konstantin. Setelah agama Kristen mendominasi benua Eropa, perkembangan seni rupa klasik Barat menurun dan akhirnya menghilang.

2. Seni Rupa Klasik Baru (Neo-Clasisme)


Pada zaman Renaissance (abad XIII) bangsa Eropa mulai mengalihkan kembali perhatiannya kepada Yunani Kuno, terutama pada filsafat dan seni. Dalam seni rupa realisme Yunani diterapkan kembali hingga lahirlah seni rupa klasik baru.
Seni rupa Renaissance sangat menonjol dalam seni lukisnya. Tema agama masih dominan, terutama pada lukisan tempera di rumah ibadah.

Seniman besar pada zaman ini antara lain :
  • Leonardo da Vinci (1452-1519). Seorang pelukis, pemahat, arsitek, musikus, dan ahli matematika. Lukisannya yang terkenal adalah Monalis.
  • Michelangelo (1475-1564). Kukisannya yang termasyur berupa lukisan tempera di kubah Gereja St. Pieters di Roma. Selain itu ia juha membuat patung Nabi Daud dan Nabi Musa dari marmer.
  • Raphael (1463-1520). Lukisannya yang terkenal adalah Madona.
 3. Zaman Barok

Mulai diterapkan pola-pola akademis pada seni lukis, patung, dan arsitektur, sehingga, berdiri sekolah-sekolah seni rupa. Pola estetika dijaga ketat. Segala penyimpangan dianggap tidak artistik.
Gaya seni para sekitar abad XVI sampai abad XIX disebut gaya seni Barok atau klasik akademis. Tema lukisannya berkisar pada keagamaan, raja-raja dan keluarganya. Salah satu ciri seni rupa Barok ialah mengandung kesan mewah.

Awal Perkembangan Seni Modern

1. Romantisme
Pada abad XIX imperialisme dan kolonialisme mencapai masa puncaknya, sementara industrialisme mulai berkembang. Kemudian muncul kisah-kisah heroik dan dramatis dalam bentuk roman. Pengaruhnya dalam seni lukis melahirkan Romantisme, yang temannya berusaha mengungkapkan kisah-kisah dramatis, kepahlawanan dan mengharukan. Pelukis aliran romantisme yang terkenal diantaranya : Delacroix (Prancis), William Blake (Inggris), dan Raden Saleh (Indonesia).
Selain itu patung La Marseillaisse karya Rude yang menghiasi kota Paris adalah juga salah satu patung beraliran romantisme.

2. Realisme

Seperti yang telah diuraikan, bahwa pertentangan antara aliran yang satu dengan aliran yang lain sering menimbulkan sesuatu yang baru. Begitu juga di sini, ketidaksetujuan terhadap keadaan yang tanpa realitas dengan anggapan, "Lukisan adalah sejarah bagi zamannya". Sehingga penyimpangan dianggap mengelabui sejarah. Para pelukis realis ini lebih banyak melukis di sanggar dengan tema perilaku kehidupan manusia ketika itu. Tokohnya : Gustava Coubert (1819-1877). Sedangkan pelukis Indonesia adalah Hendra, Abdullah, Basuki Abdullah, Sudjojono.

3. Naturalisme
Orang sering keliru antara lukisan realis dan naturalis, karena keduanya memang sama-sama melukiskan alam nyata. Akan tetapi realisme bertolak dari kenyataan perilaku kehidupan manusia, sedangkan naturalisme dari kenyataan yang ditangkap oleh indera mata ketika itu. Kelompok pelukis ini yang terkenal adalah "BARBIZON" dengan tokoh-tokohnya : Theodora Rouseau, Julis Dupre, Charles Prancois, Daubighy, Jen, F. Millet, Jean B. Camillet, dan Corot. Sedangkan di Indonesia yang terkenal adalah Wahdi Sumanta seorang pelukis dari Bandung.


4. Impresionisme

Kebiasaan pelukis aliran Realisme selalu melukis di sanggar, yang tentu saja dapat menimbulkan kejenuhan. Dengan dipelopori oleh kelompok Barbizon, mereka mulai melukis di alam bebas. Akan tetapi dalam proses melukis ini diperlukan kecepatan dalam menangkap bentuk yang dipantulkan oleh cayaha, walaupun hasilnya tidak mendetail. Aliran ini disebut juga Realisme Cahaya "Light Painting", dengan tokohnya Monet, Pisaro, Manet, Maquet, Renior dan Degas. "The Orcestre of Opera" Circa 1870 karya Degas.

5. Pointilisme

Karya seniman G. Serat (aliran Impresionisme) cenderung menggunakan teknik titik-titik warna. Dengan karyanya ini menjadikan ia sebagai tokoh pointilisme. Dalam penumpukan warna ia dipengaruhi oleh teori warna.

6. Ekspresionisme

Sangat berbeda halnya dengan kelompok seniman lain, dalam Ekspresionisme yang diungkapkan adalah luapan perasaan. Kebebasan distori, bentuk dan warna untuk melahirkan emosi atau sensasi dari dalam. Pelukis aliran ini mengolah pengalaman hidup, penderitaan batin, perasaan/emosi bukan hanya berdasarkan panca indera, melainkan dengan kejiwaan.
Tokoh-tokohnya : Vincent Van Gogh, Paul Gauguin, Die Brucke, D. Blaue Reiter. Sedangkan di Indonesia, Affandi dan Popo Iskandar.
Readmore → Apresiasi Seni Rupa | Modern Mancanegara | Nusantara | Seni Klasik | Kontemporer | Seni Rupa Barat | Awal Perkembangan Seni Modern

Thursday, April 27, 2017

Analisis Tema, Analisis Gaya, Analisis Teknik, Analisis Bentuk, Karya Seni Rupa Murni

Mengapresiasi Karya Seni Rupa di Daerah Setempat

1. Analisis Tema dalam Karya Seni Rupa Murni

Kita telah membahas tentang apa dan bagaimana munculnya tema serta gaya dalam karya seni rupa. Karya seni adalah bentuk ekspresi jiwa seniman. Oleh karena itu, apa dan bagaimana tema dan gaya suatu karya seni tergantung bagaimana tema dan gaya yang dipilih seniman yang membuatnya. Jadi, membaca tema dan gaya suatu karya sebenarnya sama dengan mempelajari latar belakang gagasan seorang seniman.

Di dalam penciptaan suatu karya seorang seniman sangat dipengaruhi lingkungannya. Yang termasuk lingkungan dalam hal ini, antara lain waktu, kejadian-kejadian, kebudayaan setempat, dan pendapat-pendapat.
Tentu masih ada faktor lain, tetapi empat faktor tersebut di atas merupakan faktor dominan yang membentuk sebuah gagasan pada diri seorang seniman.

Misalnya, pada tahun 1948-1949 di Indonesia tengah mengalami agresi Belanda sehingga masih terjadi banyak peperangan antara rakyat Indonesia dengan Belanda. Kejadian-kejadian tersebut juga disaksikan dan dialami oleh seorang yang bernama M. Toha. Kejadian-kejadian itu pula yang mendorong dia merekam kejadian-kejadian dalam goresan gambar dengan alat dan bahan seadanya. Maka terciptalah lukisan-lukisan dengan tema suasana peperangan, yang foto-fotonya telah dibukukan oleh Dullah dengan judul Karya dalam Peperangan dan Revolusi. Buku tersebut memuat 84 foto lukisan peperangan karya M. Toha. Jadi M. Toha dalam menentukan tema lukisannya terpengaruh oleh waktu dan kejadian yang ada di sekitarnya.
Lukisan Karya Antonio Blanco yang bertema penari Bali
Perhatikan lukisan di samping! Lukisan tersebut adalah karya Antonio Blanco dengan tema penari Bali. Mengapa Antonio Blanco gemar melukis dengan tema-tema kebudayaan Bali? Bahkan, hampir semua lukisan Antonio Blanco memiliki tema kehidupan masyarakat Bali. Kalau kita lihat lebih jauh, ternyata Antonio Blanco adalah orang Spanyol yang telah berkeluarga dengan wanita Bali serta menetap di pulau tersebut. Ketertarikan dan kecintaannya kepada Bali memengaruhi gagasan-gagasannya dalam berkarya.

Lukisan-lukisan Basoeki Abdullah banyak bertemakan kehidupan kaum atas karena beliau lahir dari lingkungan bangsawan dan lebih banyak bergaul dengan kelompok bangsawan. Bahkan, beliau belajar melukis ke luar negeri, suatu hal yang tidak bisa dilakukan masyarakat biasa pada waktu itu.

Demikian pula, tema-tema lukisan S. Sudjojono, Affandi, Agus Jayasuminta, Otto Jayasuminta lebih banyak diambil dari kehidupan masyarakat kelas bawah. Hal itu dikarenakan mereka adalah seniman yang banyak bergaul dengan masyarakat biasa. Pada zaman perjuangan kemerdekaan lukisan-lukisan S. Sudjojono banyak bertemakan kehidupan rakyat yang sedang memperjuangkan kemerdekaan.
Lain lagi dengan Dede Eri Supria yang hidup di alam Indonesia setelah merdeka, maka tema-tema karya lukisnya banyak mengambil tema kehidupan masyarakat setelah kemerdekaan, seperti kehidupan tukang asongan, pengemis, dan pekerja bangunan.

Jadi, ketika kita mengamati tema suatu karya seni rupa, maka kita harus memerhatikan waktu penciptaan serta latar belakang yang melingkupi senimannya. Dengan demikian pemahaman kita terhadap suatu karya seni rupa akan lengkap.

2. Analisis Gaya dalam Karya Seni Rupa Murni

Gaya-gaya karya seni rupa Nusantara, terutama seni lukisnya, sebenarnya tidak serumit dan selengkap di Eropa. Hal ini dikarenakan sejarah seni lukis di Indonesia tidak sepanjang di Eropa.

Gaya seni rupa di Indonesia dimulai dari gaya naturalis romantisme yang terdapat dalam lukisan-lukisan Raden Saleh. Gaya ini diteruskan oleh pelukis-pelukis zaman Indonesia jelita, seperti Abdullah Suryo Subroto, Basoeki Abdullah, Henk Ngantung, dan lain-lain. Basoeki Abdullah juga kadang menampilkan gaya naturalis realisme, yaitu karya dengan gaya naturalisme, tetapi dengan sapuan lebih kasar dengan mengambil tema kejadian dalam masyarakat. Gaya naturalisme ini dipengaruhi oleh falsafah arts imitatur naturan (seni adalah imitasi alam) yang dicanangkan Aristoteles.

Gaya yang muncul kemudian adalah gaya realisme yang dimotori oleh S. Sudjojono, Affandi, dan Agus Jayasuminta. Gaya ini kemudian diramaikan oleh seniman-seniman, seperti Achmad Sadali, O.H. Supono, A.D. Pirous, Srihadi Sudarsono, dan Widayat.

Lukisan Potret diri Affandi Yang Dikerjakan dengan gaya Ekspresif pelototan
Pelukis-pelukis tersebut terus bergerak mencari dan mencoba pembaruan sehingga dalam geraknya tersebut mereka berganti-ganti gaya. O.H. Supono selain melukis dengan gaya realisme pernah melukis dengan gaya surealisme, sampai akhirnya menekuni gaya impresionistik. Achmad Sadali sebelum dengan gayanya yang abstrak pernah melukis dengan gaya realisme romantisme dan kubisme. Affandi sebelum menemukan gaya ekspresif pelototannya pernah melukis dengan gaya realisme. Widayat sebelum menjadi pelukis dengan gaya dekoratif kepurbaan juga pernah menjadi pelukis dengan gaya realisme. S. Sudjojono yang kini menjadi pelukis ekspresif yang garang dan kusam, dulunya adalah pelukis realisme yang cenderung fotografis dengan media pastel.
Jadi seorang seniman kadang berganti-ganti gaya di dalam menciptakan karyanya. Hal ini dilakukan karena seorang seniman selalu melakukan pencarian-pencarian bentuk yang paling tepat bagi isi jiwanya.

Gaya, sebagai bentuk pencarian, merupakan ekspresi ketidakpuasan seniman terhadap gaya yang telah ada sebelumnya. Oleh karena itu, gaya selalu muncul dengan yang lebih baru.
Namun, dari segala gaya yang ada dan kita kenal, Howard Simon dalam bukunya Techniques of Drawing yang disadur oleh Dean Praty R. mengelompokkan menjadi bentuk abstraksi, nonobjektivisme, kubisme, surealisme, dan ekspresionisme.

a. Abstraksi

Lukisan abstrak karya Jelihan yang berjudul Bandung
Lukisan abstrak adalah lukisan atau gambar yang menganut nilai-nilai di mana bentuk diciptakan secara alamiah, tetapi dibentuk dan ditata kembali dengan sedemikian rupa sehingga keharmonisan dan ritmenya muncul. Objek-objek dan bentuk-bentuk dipecah-pecah dalam seni ini dan membentuk komponen garis masing-masing, yang kemudian dipisah-pisah dan diletakkan dalam komposisi sesuai selera sang seniman. 

b. Kubisme

Kubisme tidak hanya merupakan usaha abstraksi yang meratakan dan menggeometriskan serta mengelompokkan kembali terhadap objek-objek alam. Terkadang, bahkan sering, berusaha keras untuk memperlihatkan bidang belakang secara simultan dengan bidang depan, sampai-sampai menggunakan transparansi.

Sheldon Cheney menggambarkan ide fundamental kubisme sebagai berikut, "Kubisme memungkinkan kita untuk memisahkan bidang-bidang dari suatu objek, serta menatanya kembali dalam sebuah gambar sehingga terorganisasi dan memberikan kesan emosional dan struktural yang lebih mumi daripada penampilan semula."

c. Ekspresionisme

Lukisan Sudjana Kerton dengan warna-warna yang ekspresif
Ekspresionisme mencari intensif bentuk dan struktur. Aliran ini memanfaatkan distorsi keras untuk mengekspresikan perasaan emosi sang seniman secara kreatif. Para penganut ekspresionis ini memanfaatkan alam sebagai subyeknya. Dan ekspresionisme sendiri lebih banyak menggambarkan tanggapan emosional seniman terhadap objek gambarnya.

Gambar Popo Iskandar di samping terlihat bagaimana seniman mencurahkan ekspresinya terhadap objek dengan goresan-goresan warna dan garisnya secara emosional. Distorsi keras terhadap bentuk kucing yang sebenarnya dalam media garis dan warna yang tegas dan spontan menunjukkan seniman memiliki dorongan kuat terhadap objek.

d. Nonobjektivisme

Gaya nonobjektivisme adalah gaya di mana materi komposisi didasarkan pada bentuk-bentuk geometris dan nongeometris yang sering disebut dengan istilah bentuk bebas. Bentuk ini tidak seperti bentuk-bentuk alami ataupun objek-objek yang mudah dikenali dengan garis hidup kreasinya sendiri. Selain itu, bentuk ini memisahkan diri dari objek yang biasa kita lihat sehari-hari. Warna, nilai gelap-terang (cahaya dan bayangan), serta tekstur banyak dimanfaatkan dalam melukis nonobjektif.

e. Surealisme

Gaya Surealisme adalah simbolis seni seperti yang diinterpretasikan oleh Fruedian (diambil dari teori Sigmund Frued). Terminologi lukisannya memang sebagai aliran modem, tetapi teknik penggambarannya lebih mirip naturalis realisme. Gaya surealisme sangat menonjolkan objek sehingga menjadi super-realisme. Terkadang menyerupai impian atau kesan horor.

3. Analisis Teknik dan Bahan Karya Seni Rupa Murni

Lukisan Affandi dengan bahan cat air
Teknik dan bahan yang digunakan dalam berkarya seni rupa murni di tiap daerah sangat beragam. Munculnya variasi teknik dalam berkarya seni rupa mumi dipengaruhi beragamnya bahan dan media yang digunakan. Contohnya, seni lukis kaca di Cirebon. Teknik yang digunakan tentunya berbeda dengan seni lukis biasa yang menggunakan media kertas. Hal ini dikarenakan penggunaan media kaca yang berbeda dengan media kertas atau lainnya.

Contoh lainnya adalah melukis poster dengan cat menggunakan teknik opaque. Teknik opaque adalah teknik memberikan warna-warna yang menutup atau tidak transparan.

Teknik pewarnaan dengan cat air dibedakan menjadi teknik basah dan teknik kering. Teknik basah dilakukan dengan membasahi kertas terlebih dahulu, sedangkan teknik kering dilakukan dengan cara kertas dibiarkan kering tanpa dibasahi.

4. Analisis Bentuk Karya Seni Rupa Murni


Topeng dari Bali memiliki ciri khas dalam bentukny
Karya seni rupa murni dapat berbentuk dua dimensi ataupun tiga dimensi. Karya seni rupa murni dua dimensi contohnya adalah lukisan. Sementara, contoh karya seni rupa murni tiga dimensi adalah patung.

Bentuk karya seni rupa di tiap daerah memiliki ciri khas masing-masing. Misalnya, di Bali sangat terkenal dengan seni lukisan atau seni rupa dua dimensi meski seni rupa tiga dimensinya tidak kalah menarik dan diminati. Sementara itu, di Yogyakarta lebih dominan karya seni rupa tiga dimensi, terutama kerajinan perak dan seni kriyanya. Di Magelang lain lagi, karya seni patung sangat dominan di daerah ini.

Selain bentuk berdasarkan ukuran atau dimensinya yang berbeda, di tiap daerah juga memiliki ciri khas bentuk estetisnya. Contohnya, patung dari Magelang tentu berbeda dengan patung dari suku Asmat. Kalian dapat menemukan keunikan bentuk-bentuk karya seni rupa mumi di daerah kalian masing-masing, yaitu dengan mengapresiasi karya seni rupa murni dari daerah kalian.
Readmore → Analisis Tema, Analisis Gaya, Analisis Teknik, Analisis Bentuk, Karya Seni Rupa Murni

Gaya Seni Rupa, Teknik Pembuatan, Bahan Karya, Seni Rupa Murni, Bentuk Karya Seni Rupa Murni, Daerah Setempat

Pengaruh Budaya Terhadap Karya Seni Daerah Setempat


Sebagaimana yang telah diketahui bahwa tema karya seni rupa salah satunya dipengaruhi oleh sosial budaya. Oleh sebab itu, keragaman budaya di negara kita sangat mendorong munculnya berbagai tema seni rupa murni yang dihasilkan. Sebagai contoh, lukisan wayang di Jawa yang banyak mengambil cerita Panji. Cerita Panji berasal dari budaya Jawa sehingga tidak mengherankan bila tema lukisan wayang beber di Jawa banyak mengambil cerita tersebut. Lukisan wayang di Jawa terkenal dengan sebutan wayang beber dan merupakan bentuk wayang tertua. Pertama kali wayang digoreskan pada daun tal dan selain mengambil tema cerita Panji juga mengambil tema dari cerita Ramayana dan Mahabharata.

Sementara itu, pelukis tradisional di Bali banyak mengambil cerita Ramayana dan Mahabharata daripada cerita Panji. Hal ini dikarenakan kedua epos tersebut lekat dengan budaya orang Bali yang mayoritas beragama Hindu. Tokoh-tokoh penting dalam lukisan wayang di Bali adalah tokoh utama, seperti Arjuna dan Rama. Tokoh-tokoh tersebut dapat dikenali melalui sistem rincian ikonografi. Misalnya, tokoh Arjuna memiliki kulit warna emas, tubuh langsing, gaya tatanan rambut atau mahkota rumit, mata berbentuk buah ketapang, dan bulu badan tipis.

Jadi, lukisan wayang di daerah Bali dan Jawa memiliki kecenderungan mengambil tema yang khas dengan budaya setempat. Akan tetapi, sebagian juga memiliki kesamaan dalam mengadopsi epos Ramayana dan Mahabharata. Keunikan-keunikan karya seni rupa daerah lainnya dapat kalian temukan dengan mengapresiasinya. Keunikan karya seni tiap daerah merupakan kekayaan seni budaya yang patut dibanggakan.

Lukisan Karya Basoeki Abdullah
Lukisan Karya Basoeki Abdullah yang bertemakan kegiatan di pasar malam.

Gaya dalam Karya Seni Rupa di Daerah Setempat

Pada cerita di awal bab kita telah menyinggung tentang guru seni rupa yang memberikan tugas menggambar hasil pengamatan saat bertamasya ke taman. Hasil yang diperoleh adalah berbagai corak lukisan dikumpulkan siswa. Perbedaan corak tersebut ditentukan oleh perbedaan pengalaman dan pandangan terhadap suatu objek. Selain itu, perbedaan itu muncul karena pilihan teknik, bahan, dan cara pengungkapan yang digunakan. Perbedaan cara pengungkapan, teknik dan bahan inilah yang membuat perbedaan gaya dalam seni rupa.
Secara garis besar, di dalam seni rupa dikenal dua corak dalam pengungkapan gagasan menjadi karya seni, yaitu sebagai berikut.
a. Corak figuratif, yaitu corak yang menggunakan figur-figur benda yang telah ada, seperti manusia, binatang, tumbuhan, dan sebagainya. Corak figuratif mengambil bentuk suatu figur, kemudian dikembangkan dalam daya kreatifnya. Akan tetapi, corak figur itu tetap masih terlihat.
Salah Satu Karya Basoeki Abdullah Yang termasuk lukisan bercorak figuratif

b. Corak nonfiguratif, yaitu corak yang tidak mengambil figur yang ada di alam. Corak ini biasanya disebut sebagai corak abstrak. Corak nonfiguratif mumi berujud bentuk baru hasil imajinasi seniman. Oleh karena itu, untuk mengetahui tema yang terdapat dalam suatu karya seni sangat sulit. Yang paling tahu apa isi dari karya seni tersebut hanyalah senimannya sendiri.


Lukisan Karya Utoyo Hadi Bercorak nonfiruratif

Corak seni rupa daerah juga memiliki kekhasan masing-masing. Kekhasan gaya atau corak yang digunakan tidak terlepas dari pengaruh budaya tiap daerah. Sebagai contoh, karya seni lukis di daerah Yogyakarta tentu memiliki corak yang berbeda dengan karya seni lukis daerah Cirebon. Misalnya, batik Yogyakarta berbeda coraknya dengan corak batik Cirebon.

Contoh lainnya, seni lukis daerah Yogyakarta pada tahun 1970-an cenderung menggunakan gaya realisme nonromantisme. Subjek-subjek yang dilukis di antaranya adalah gambaran suasana hiburan desa, pemandangan pedesaan serta pasar, dan gambaran kehidupan rakyat sehari-hari. Gambaran kehidupan rakyat tersebut sangat mewakili kehidupan rakyat setempat.
Lukisan Potret diri Affandi dan Lukisan Karya Hanafi

Sementara itu, pada tahun 1980-an minat seniman menggunakan gaya realis secara surealis berkembang. Secara bersamaan, gaya abstrak juga mengalami kemajuan. Seni tradisional dijadikan pijakan dalam pengembangan seni abstrak. Itulah beberapa gaya yang digunakan seniman di Yogyakarta pada tahun 1970-an dan 1980-an. Di daerah lain, seniman memiliki gaya khas dan keunikan yang tentunya berbeda.

Teknik Pembuatan dan Bahan Karya Seni Rupa Murni Daerah Setempat


Selain tema dan gaya atau coraknya yang beragam, teknik pembuatan karya seni rupa mumi di tiap daerah tentunya juga memiliki kekhasan masing-masing. Sebagai contoh, seni lukis wayang di Bali memiliki keunikan dalam teknik pelukisannya, yaitu tahapan pelukisannya. Tahap penting dilakukan oleh pelukis utamanya, pewarnaan awal dilakukan seniman pemula atau anggota keluarganya, dan sentuhan akhir diberikan oleh sang empu (lndonesian Heritage: Seni Rupa).
Sementara itu, di Jawa Timur, lukisan wayang pertama kali menggunakan daun tal. Di Cirebon terdapat keunikan teknik dan bahan dalam melukis, yaitu seni lukis kaca. Disebut seni lukis kaca karena media yang digunakan adalah kaca. Kaca digunakan sebagai kanvas, sedangkan bahan untuk melukis menggunakan cat kayu.

Contoh-contoh tersebut hanya sebagian kecil saja dari keunikan yang ada dalam seni rupa mumi daerah. Kalian dapat memerhatikan karya seni rupa dari daerah masing-masing untuk mengetahui keunikannya.

Bentuk Karya Seni Rupa Murni Daerah Setempat

Berdasarkan dimensi atau ukurannya, bentuk karya seni rupa dibedakan sebagai berikut.

a. Seni Rupa Dua Dimensi


Seni rupa dua dimensi adalah karya seni rupa yang memiliki ukuran panjang dan lebar. Bentuknya berupa bidang. Contohnya adalah lukisan, karikatur, batik, ilustrasi, dan grafis. Contoh karya seni rupa mumi yang berbentuk dua dimensi adalah lukisan.

b. Seni Rupa Tiga Dimensi

Karya seni rupa tiga dimensi memiliki ukuran panjang, lebar, dan tinggi sehingga bentuknya bangun atau ruang. Contoh karya seni rupa tiga dimensi adalah patung, bangunan, keramik, dan seni instalasi. Contoh karya seni rupa murni yang berbentuk tiga dimensi adalah patung.

c. Seni Relief

Seni relief berada di antara seni rupa dua dimensi dan seni rupa tiga dimensi. Seni relief memiliki ketebalan, tetapi hanya dapat dinikmati dari satu arah (muka).

Lukisan Dua Dimensi
Readmore → Gaya Seni Rupa, Teknik Pembuatan, Bahan Karya, Seni Rupa Murni, Bentuk Karya Seni Rupa Murni, Daerah Setempat

Karya Seni Rupa, Kerajinan Keramik Cina, Apresiasi Seni Kriya, Mancanegara

Cina yang merupakan "ibukota” keramik di dunia, menghasilkan poci teh atau kopi dalam aneka bentuk dan motif. Salah satu tempat penghasil poci teh yang terkenal adalah Yixing di Provinsi Jiangsu, dekat kota pelabuhan terbesar, Shanghai, Cina. Pada masa lampau, masyarakat Yixing tidak pernah mengenal dunia luar, tetapi dalam penuangan model kaya akan ide atau gagasan.

Kerajinan Keramik Cina

Bahan untuk pembuatan poci keramik bermacam-macam. Ada yang ringan dengan bahan dasar dolomit dan porselen. Sementara, di Indonesia umumnya keramik dibuat dari tanah liat (clay). Bahan tanah liat ini mudah didapatkan di Indonesia dan hasilnya cukup keras sehingga tidak mudah pecah. Poci Yixing terkenal karena bahan dasarnya hanya terdapat di sana, yaitu tanah liat ungu (purple clay).

Tanah liat ini mengandung berbagai macam zat besi yang teroksidasi.

Tanah itu diambil dari gua dengan cara menggali dengan kedalaman 150-200 meter. Tanah liat di Yixing terdiri atas empat warna, yaitu ungu, merah/terakota, hiram, dan kuning yang berbentuk bongkahan keras. Bongkahan ini dibawa ke pabrik dan dijemur di tempat terbuka selama seminggu agar terkena sinar matahari atau air hujan sehingga hancur dan lunak. Selanjutnya, serpihan tanah liat tadi dimasukkan dalam mesin penghancur untuk dilumatkan dan dicampur air dingin, lalu dicetak berbentuk silinder. Adonan itu disimpan dalam gudang selama sepuluh hari sehingga bentuknya padat. Setelah itu, adonan dimasukkan ke mesin yang memiliki pipa untuk divakum agar lebih padat dan menyerap air. Saat keluar dari mesin, tanah liat sudah berupa adonan kotak-kotak seberat 20 kg. Adonan inilah yang menjadi bahan dasar untuk membuat poci. Proses yang dilakukan pembuat keramik di Indonesia tidak jauh berbeda dengan proses tersebut. Perbedaannya hanyalah di Indonesia tidak dilakukan proses vakum.

Rangkuman Apresiasi Karya Seni Kriya Mancanegara


  1. Cina dikenal sebagai "ibukota" keramik di dunia. Selain karena pengrajinnya yang mahir juga karena tanah di Cina sangat bagus untuk pembuatan keramik. Ciri khas keramik Cina adalah cenderung lebih tipis, halus, bahannya lebih bagus, biasanya bermotifkan naga atau simbol-simbol tertentu yang banyak diyakini orang karena alasan fengshui-nya. Keunikan lain, produk Cina terkadang terlihat sama. Padahal jika diamati lebih dekat ternyata berbeda. Keramik Cina ada dua jenis, yakni keramik produksi Jingdczhcn dan produksi Guangzhou. Keramik Jingdezhcn relatif lebih banyak digemari konsumen karena lebih tipis, halus, dan unik model-modelnya.
  2. Selain Cina, keramik yang terkenal adalah keramik Gouda dari Belanda yang menarik karena keindahan warna dan bentuknya, keramik Majolica dari Inggris yang menarik karena warnanya yang cerah dan lembut, dan keramik Carlton Ware yang menampilkan bentuk menawan.
  3. Manik-manik sejak zaman lampau digunakan untuk perhiasan para wanita, seperti kalung dan gelang. Secara umum, bahan-bahan yang digunakan membuat manik-manik adalah kulit kerang, kayu, getah kayu, keramik, gerabah, lempung, tulang, batu, kaca, kamelian, akik, kuarsa, emas, dan logam. Bahan-bahan tersebut masih dapat dipilah-pilah, seperti batu terdiri atas kornelian, oniks, andesit, giok, dan kalsedon. Manik-manik dibuat dengan berbagai cara, tergantung jenis bahannya. Lubang manik-manik dibuat dengan bor dari dua arah pada pinggir manik-manik. Pembuatan manik-manik dari tanah liat dilakukan dengan melilitkan tanah pada kawat sehingga ketika kawat tersebut ditarik maka terbentuk pipa kecil dari tanah liat yang kemudian dipotong-potong dan dibakar. Manik-manik yang dibuat dari kaca diperoleh dengan membakar kaca hingga cair dan menuangkannya ke dalam cetakan. Cara lainnya adalah menusukkan sepotong kayu ke dalam cairan kaca dan memutarnya hingga kaca yang mulai mengeras merekat pada kayu. Bila kayu tersebut ditarik, maka akan menghasilkan lubang pada manik-manik.
  4. Teknik pembuatan keramik di mancanegara juga bermacam-macam. Secara umum, pembuatan keramik adalah dengan teknik pilin, cetak, dan roda putar. Adapun teknik hiasan dengan cara gores, cap, kuas, dan tempel. Bahan keramik ada tiga macam, yaitu tembikar, bahan batuan, dan porselen.
  5. Masyarakat Cina dan Jepang memiliki berbagai persamaan di bidang seni. Satu di antaranya ialah mereka memiliki hewan-hewan legendaris dalam kehidupan, seperti naga, singa, macan, kerbau, monyet, atau burung. Tidak mengherankan bila motif atau corak seni keramik dan batiknya banyak menggunakan hewan-hewan tersebut.
  6. Di Cina terdapat empat jenis sulaman tangan, yaitu sulaman Su dari Provinsi Jiangsu, sulaman Xiang dari Provinsi Hunan, sulaman Yuc dari Provinsi Guangdong, dan sulaman Shu dari Provinsi Sichuan. Masing-masing memiliki keunikan atau ciri khas tersendiri. Sulaman Su berwarna cerah dan bentuk sulaman yang dihasilkan kelihatan seperti objek yang sebenarnya. Sulaman Xiang penuh imajinasi dan bentuk sulaman banyak mengambil motif gunung, sungai, dan binatang. Sulaman Yue sebagian besar menampilkan pola bunga dan rumput. Sementara itu, sulaman Shu tekstur yang dihasilkan tampak lebih kasar, tetapi tidak mudah kusut.
  7. Alat yang digunakan dalam proses pembentukan keramik adalah roda putar. Alat ini berbentuk bundar dan terbuat dari coran semen dengan tulang besi. Bagian tengahnya sedikit cekung, pada bagian ini diletakkan kayu berbentuk bulat dan berfungsi sebagai landasan tanah liat pada waktu pembentukan. Bagian tengah dari roda putar tersebut diberi poros besi sebagai tonggak yang menghubungkan roda putar dengan lantai.
  8. Teknik menghias keramik dapat dilakukan pada waktu pembentukan di atas roda putar. Caranya, bagian tepian ditekan sehingga membentuk hiasan gelombang. Selain itu, proses menghias dapat juga dilakukan setelah produk setengah kering. Caranya dengan diukir, cetak-tempel, atau dicap.
  9. Teknik pengglasiran dilakukan beberapa cara, tergantung besar kecilnya produk. Barang berukuran kecil dengan cara dicelup pada cairan glasir, sedangkan produk ukuran sedang dan besar dengan cara disiram.
  10. Pembakaran menggunakan tungku yang panjang dan pada bagian belakang terletak cerobong asap. Bentuknya memanjang ke belakang, bagian belakang lebih tinggi agar pemanasan merata. Tungku inilah yang pada masa dulu dikenal dengan sebutan tungku naga.
  11. Salah satu tempat penghasil poci teh yang terkenal adalah Yixing di Provinsi Jiangsu, dekat kota pelabuhan terbesar, Shanghai, Cina. Poci Yixing terkenal karena bahan dasarnya hanya terdapat di sana, yaitu tanah liat ungu (purple clay).
Readmore → Karya Seni Rupa, Kerajinan Keramik Cina, Apresiasi Seni Kriya, Mancanegara