Friday, October 7, 2016

Pentas Seni Teater ”Semangkuk Sup Makan Siang”

Pentas Seni Teater ”Semangkuk Sup Makan Siang”

Semua Bermula dari ”Cultuurstelsel”

Pada awalnya adalah kekosongan, dan dari kekosongan itu akhirnya ada daya hidup. Dari daya hidup muncullah dinamika. Yang terjadi kemudian adalah problema yang terus menggugat, di manakah sesungguhnya nilai perikehidupan, meskipun tak pernah ada jawaban?

Barangkali ungkapan itu bisa menjadi gambaran makna pementasan teater berjudul ”Semangkuk Sup Makan Siang”atau Cultuurstelsel, Rabu-Kamis (10-11/8) di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta. Pementasan ini dipersembahkan oleh ARS Management dan WhaniDProject.

Tak ada tokoh utama, tak ada alur cerita. Diperankan tiga aktor Theodorus Christanto, Rendra Bagus Pamungkas, dan Whani Darmawan yang lebih mendominasi dialog selayaknya monolog.

Drama ini hanya berbicara tentang kekosongan hidup. Mempertanyakan apa dan siapa sesungguhnya kekuasaan. Dengan geram dan garang kekuasaan diperbincangkan lengkap dengan teori kekuasaan dari para filsuf besar. Kekosongan hidup itu akhirnya seperti meledak, memunculkan kemarahan. Namun, ternyata tetap hanya berhenti rerasan, umpatan keras, dan tak pernah ada jawaban.

Selain dialog-dialognya yang berat, syarat dengan ungkapan filsafat dan sejarah, sebenarnya dari sisi struktur, drama ini sangat sederhana. Tiga tokoh tak diketahui namanya, asalnya, dan sejarahnya yang pasti, mereka hidup bersama dengan masing-masing pribadi yang tak jelas statusnya. Terkadang tokoh yang diperankan Whani, seperti tuan rumah dan dua tokoh lain terlihat seperti pembantu. Namun, saat terjadi perdebatan tak lagi tampak yang mana tuan atau pembantu, semua berbicara sederajat.


Penindasan


Menggunakan seting problem cultuurstelsel atau tanam paksa masa kolonial Belanda seputar abad ke-17, lakon ini mengembangkan dampak cultuurstelsel, di hampir seluruh sendi kehidupan. Mulai dari kejayaan Mahapahit yang kekuasaannya melebihi kekuasaan Nusantara sekarang, sampai pada orientasi kekuasaan yang tetap mengalir dalam pemikiran kolonialisme, alur pikiran cultuurstelsel.

Drama apik ini diawali dari perbincangan tentang cultuurstelsel yang menjadi awal peristiwa runtuhnya ketenangan kehidupan Jawa. Perang Diponegoro (1825-1830) sebagai bentuk perlawanan kekuasaan justru menimbulkan kematian masing-masing pihak. Diponegoro ditipu daya, ditangkap, dan akhirnya meninggal dengan makam yang kecil di Makassar. Dari cultuurstelsel atau tanam paksa itu kekuasaan bermula.

Tergambar dalam dialog, pemaksaan tanam cengkih, pala, tembakau, kapas telah menimbulkan penindasan manusia. Dalam dialog tokoh Whani menyatakan perayaan minum kopi adalah yang diminumnya pagi itu tak ubahnya merayakan kebengisan sebagai peradaban.

 Cultuurstelsel bagi Belanda adalah semacam sup untuk makan siang yang lezat. Pesta yang mencatat sejarah kebengisan yang meninabobokkan peradaban.

Cultuurstelsel ini lantas dijadikan benang merah untuk mengidentifikasi persoalan aktual yang merundung negeri ini. Salah satunya teriakan Whani yang lantang, cultuurstelsel seperti hidup langgeng. Tak ada perubahan meski tanah telah merdeka. Peraturan-peraturan dari dulu dan sekarang terus saja terkungkung aroma cultuurstelsel. Kekuasaan sepertinya justru menjadi ancaman kehidupan. Bisa saja kekuasaan membakar kota.

Ahli ilmu Humaniora dari Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, St Sunardi, yang memberi catatan naskah yang termuat dalam katalog, kunci utama adalah ungkapan puitis yang disuarakan oleh Whani ....”Oh indahnya kekuasaan, aku memasuki dirimu. Dan amboi lihatlah cahaya itu mengalir dalam darahku, mempercepat denyut jantungku, woi... lihat akulah kaisar yang tengah membakar kota....”

Lakon ini bukan anti kekuasaan. Ini terjawab dari ungkapan tokohnya, ”Kekuasaan telah berhasil menyembunyikan kegembiraan yang mestinya dirayakan bersama...”

Menurut Sunardi, sang tokoh, seperti sedang membawakan sejenis kekuasaan yang sedang menertawakan dirinya sendiri. Apa jadinya kalau kekuasaan tidak bisa menertawakan dirinya sendiri, tapi sebaliknya justru ditertawakan orang lain.

Totok Hedi Santosa, penulis naskah sekaligus sutradara lakon ini, bukanlah orang baru dalam dunia teater. Jebolan filsafat Driyarkara ini cukup malang melintang dalam dunia teater sebagai yunior dari Teguh Karya dan Arifin C Noer.

”Sudah 20 tahun aku tidak berkarya dalam dunia teater. Dengan karya ini aku rindu lagi pada dunia teater,” kata Hedi yang kini menjadi anggota DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta.
Untuk Berlangganan Materi Silahkan Masukan Email Anda Pada Form Dibawah

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner