Pameran Seni, Investasi Sosial-Kultural

Pameran Seni, Investasi Sosial-Kultural

Seni, Investasi Sosial-Kultural


Publik antusias menyaksikan pameran koleksi seni rupa Istana Kepresidenan Republik Indonesia di Galeri Nasional Indonesia. Sejak awal Agustus, 25.000 pengunjung telah menyaksikan pameran bertajuk "17/71:GORESAN JUANG KEMERDEKAAN" ini.

Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hilmar Farid mengatakan, tingginya antusiasme masyarakat menunjukkan bagaimana kekuatan realisme. Dalam karya seni rupa, kenyataan bisa dicerminkan lagi dalam bentuk yang solid.



"Lukisan-lukisan yang dipamerkan ini mewakili perjalanan Republik (Indonesia)," ucapnya, Senin (22/8), dalam seminar sehari Karya Seni Rupa dan Sejarah Indonesia, di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta.
Menurut Hilmar, koleksi lukisan Istana Presiden yang dipamerkan bukan semata-mata hiasan, melainkan merupakan pernyataan kebudayaan yang kini telah menjadi milik publik. "Lukisan-lukisan ini tidak ternilai. Di dalamnya terkandung nilai-nilai budaya," katanya.

Selain koleksi seni rupa Istana, Hilmar melihat gedung-gedung negara di kawasan Medan Merdeka sebagai kompleks kebudayaan. Muncul gagasan bagaimana jika ke depan gedung-gedung bersejarah ini dikelola secara terpadu dalam satu atap sebagai pusat pengembangan kebudayaan nasional.

"Ini adalah pilihan logis jika ingin menjadikan kawasan ini sebagai satu kesatuan pusat pengembangan kebudayaan nasional. Nilai investasinya memang sangat besar dan perlu dipikirkan mendalam, karena ini bukan untuk mendapatkan keuntungan, tetapi sebagai investasi sosial dan kultural," kata Hilmar.

Menurut Deputi Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi Kantor Staf Presiden Eko Sulistyo, berdasarkan pendataan Sekretariat Negara pada 2010, ada sekitar 16.000 koleksi benda seni berharga yang tersimpan di Istana Merdeka dan Istana Negara di Jakarta, Istana Bogor dan Istana Cipanas di Jawa Barat, Istana Tampaksiring di Bali, serta Gedung Agung di Yogyakarta.

"Pada masa Soekarno, Istana pernah memiliki visi sebagai ruang budaya karena Istana sebagai ruang politik menjadikan masyarakat berjarak sehingga perlu ada ruang budaya lintas ideologi dan strata. Pada zaman Soekarno, Istana menjadi galeri seni terbesar," ujarnya.

Koleksi Soekarno

Putra presiden pertama RI sekaligus budayawan, Guruh Soekarnoputra, mengatakan, sekitar 90 persen benda-benda seni rupa di Istana Presiden merupakan koleksi Soekarno. "Waktu kami sekeluarga diminta pindah dari Istana, kami hanya membawa barang seadanya. Lukisan-lukisan dan buku-buku Pak Karno ditinggal di Istana," ujarnya.


Yang paling memprihatinkan, dari sekian ribu koleksi itu ada ratusan lukisan yang kemudian hilang. Guruh bahkan pernah mendapati satu koleksi Istana, yaitu sebuah lukisan Basoeki Abdullah, berada di balai lelang Christie's. "Setahun kemudian ternyata ada lagi lukisan Istana yang dibeli orang Indonesia. Lukisan panen padi karya Bonnet bahkan dicuri dan diganti dengan lukisan palsu (tiruan)," katanya.

Mantan Kepala Biro Pengelolaan Istana Kepresidenan RI, Adek Wahyuni Saptantinah, yang bekerja selama 33 tahun di Istana, mengatakan, sejak awal tidak ada daftar koleksi seni rupa Istana. Satu-satunya yang menjadi rujukan hanyalah buku koleksi lukisan Presiden Soekarno. "Tahun 2012, setelah kami lakukan penilaian aset barulah anggaran perawatan naik. Meski demikian, restorasi koleksi yang rusak berat belum bisa dilakukan.

Sejarawan Peter Carey menyatakan pentingnya perawatan dan restorasi lukisan-lukisan Istana yang sejatinya memuat jati diri bangsa tersebut. Ia mencontohkan, restorasi lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro karya Raden Saleh menghabiskan dana 52.000 dollar AS. Jika tidak direstorasi, lukisan yang kaya akan makna sejarah itu bisa hancur 20 tahun lagi.

Kurator pameran ini Mikke Susanto menilai perlu ada kesepakatan bagaimana mengelola koleksi seni rupa Istana. Salah satu yang harus disepakati adalah karya-karya tersebut tidak boleh keluar dari Istana.

Sementara itu, budayawan Mudji Sutrisno SJ mengusulkan perlu ada dewan kurator yang secara khusus mengurusi koleksi seni rupa Istana.

Pesona Koleksi Para Kolektor Ternama


Bulan Agustus seolah memanjakan para pencinta seni rupa. Di sela pameran koleksi seni rupa Istana Kepresidenan, publik di Jakarta disuguhi Art Stage Jakarta. Pasar jual-beli karya seni rupa asal Singapura itu tak hanya memanjakan kolektor berduit, tetapi juga memberi kesempatan publik menikmati pameran karya seni kontemporer koleksi para kolektor terkemuka Indonesia.

Proyeksi di dinding putih itu seperti layar raksasa dari sebuah komputer sibuk. Di dinding itu, garis-garis horizontal berlarian cepat, seperti kelebat-kelebat perintah yang menyigi "lemari raksasa" penuh data-data digital. Tiba-tiba, terdengar dentingan nyaring-serupa bunyi sonar kapal selam-dan seketika itu pula proyeksi itu diam seperti membeku.

Tiba-tiba muncul satu-dua garis melintang, menghubungkan sebuah "baris data" dengan "baris data" yang lain. Seolah-olah sang komputer menemukan yang dicari-cari. Lalu sederetan huruf dan angka tersaji, "berlari" sangat cepat, seperti memindai data-data digital yang ditemukan. Lalu, dentingan memekakkan telinga itu kembali terdengar, layar tiba-tiba terasa terang karena tiap- tiap bidangnya penuh berisi angka-angka balok yang acak.

Wiyu Wahono, sang kolektor instalasi audio-visual karya perupa Jepang, Ryoji Ikeda, itu seperti tak pernah bosan menatap proyeksi hitam-putih-biru di dinding ruang pameran di lantai dua Hotel Sheraton Grand Jakarta. "Luar biasa bukan," ujarnya lirih, entah untuk ke berapa kalinya Wiyu mengagumi lagi instalasi "Data Tron" (2007) koleksinya itu.

"Coba Anda bayangkan, ketika kita sedang berdiri menonton karya Ikeda itu, ada berapa data digital yang sedang berseliweran dari dan ke gawai kita," kata Wiyu sambil mengacungkan gawainya. "Data-data digital itu, angka-angka binari yang tak terhingga banyaknya, berseliweran begitu cepat, mengirimkan berbagai macam kabar dan dan dokumen ke belahan dunia lainnya secara seketika," kata Wiyu, yang ceritanya terhenti denting sonar berikutnya.

"Sungguh, Ikeda seniman yang rewel, untuk mengoleksi karya dia saya harus memiliki proyektor beresolusi 10.000 lumens, dengan pelantang yang ditentukan Ikeda, dan pemasangan karya dilakukan oleh teknisi Ikeda," kata Wiyu tertawa.

"Expose"
Wiyu menjadi satu dari enam kolektor terkemuka Indonesia yang dipilih kurator Enin Supriyanto untuk memamerkan koleksinya dalam "Expose", sebuah pameran pendamping perhelatan pasar jual-beli karya seni rupa Art Stage Jakarta yang berlangsung 5-7 Agustus ini. Pameran itu digadang-gadang pendiri Art Stage Jakarta, Lorenzo Rudolf, sebagai program edukasi seni bagi publik, membagikan pengalaman para kolektor terpilih mengoleksi karya seni rupa kontemporer.

"Expose" adalah respons atas rencana besar Istana Kepresidenan Republik Indonesia memamerkan koleksi seni rupa Istana. "Soekarno adalah kolektor pertama dan kolektor seni rupa terbesar Indonesia. Ketika kami mendengar rencana pameran itu, menjadi relevan jika kami menyuguhkan pameran yang serupa, memamerkan karya-karya seni rupa kontemporer yang dikoleksi enam kolektor terpilih," tutur Enin.

Keenam kolektor terpilih itu adalah Wiyu Wahono, Tom Tandio, Melani Setiawan, Rudy Akili, Deddy Kusuma, dan Alex Tedja. "Expose" dibangun dengan kalimat kunci bahwa "koleksi adalah cerminan sang kolektor", sehingga Enin meminta setiap kolektor memilih sendiri enam karya yang menurut mereka penting untuk dipamerkan kepada publik.

Kolektor senior, seperti Deddy ataupun Alex memilih memamerkan lukisan dan patung terbaik dari koleksi mereka-termasuk lukisan karya Masriadi, Handiwirman, ataupun Yunizar, para perupa kondang Indonesia. Rudy yang sama seniornya dari segi usia memiliki selera yang "lebih muda" dibandingkan Deddy dan Alex, memilih memamerkan 5 jam dinding karya Wisnu Auri, instalasi patung berbahan kayu karya Anusapati, dan sebuah karya mendiang S Teddy D, "Viva La Muerte" (2000, tong minyak, bilah parang, sepatu militer, dan lampu, dimensi bervariasi).

Semangat muda dihadirkan Tom, yang memilih memamerkan seri fotografi. Pertama, "Alienation of Stone at Depan Rumah Sasonomulyo" (2012), menunjukkan pergeseran para kolektor generasi "muda" yang semakin berani mengoleksi medium-medium seni yang mudah direplikasi, termasuk fotografi. Yang paling "provokatif" tentu saja Wiyu, dengan koleksi seni rupa new media yang bahkan tak diminati, bahkan dihindari, para kolektor kawakan yang mapan.

Akumulasi pengetahuan
Enin memilih instalasi "Coversation Unknown" (2015, gambar tinta di atas ribuan plexiglass bening yang masing-masing berukuran 9 sentimeter x 6 sentimeter, dimensi bervariasi) sebagai koleksi yang paling merepresentasi kolektor Melani Setiawan. Instalasi plexiglass yang berisi gambar ribuan wajah orang-orang yang berkecimpung dalam medan seni rupa Indonesia.

Melani dikenal dengan kegemarannya berfoto bersama siapa pun orang yang ditemuinya di berbagai perhelatan seni rupa. Ribuan wajah dalam instalasi "Coversation Unknown" itu digambar Aditya Novali dari bertumpuk-tumpuk album koleksi foto Melani, lalu belakangan Melani mengoleksinya. "Mengingat Melani juga dikenal sebagai "ibu" bagi para perupa muda yang merantau ke Jakarta, "Coversation Unknown" sangat mencerminkan jati diri Melani di medan seni rupa Indonesia. Koleksi itu sungguh-sungguh Ibu Melani," kata Enin.

Pilihan Enin itu sekaligus menegaskan bagaimana medan seni rupa dunia adalah interaksi timbal-balik di antara perupa dan para kolektor. "Di belahan dunia mana pun, koleksi-koleksi pribadi kolektor menjadi bagian penting dari sejarah medan seni rupa. Museum Guggenheim berawal dari koleksi pribadi Solomon R Guggenheim. Koleksi Istana Kepresidenan berawal dari koleksi pribadi Soekarno," kata Enin.

Enin menyebut, para kolektor mengumpulkan tiap-tiap karya seni rupa yang diminatinya dalam proses yang panjang. "Tidak terpungkiri, pada awalnya karya seni rupa dibeli sebagai bagian dari akumulasi kemakmuran para kolektornya. Melalui proses yang berentang waktu panjang, akumulasi kemakmuran para kolektor itu berkembang menjadi sebuah akumulasi pengetahuan mengenai seni rupa dan hal di luar seni rupa. Ketika itulah koleksi-koleksi seni rupa itu berharga bagi pengetahuan publik," kata Enin.

Art Stage Jakarta juga menyuguhkan program edukasi seni lainnya, berupa pameran 17 lukisan karya maestro Affandi milik empat kolektor kenamaan-Alex Tedja, Caecil Papadimitriou, Deddy Kusuma, dan Rudy Akili. Caecil berharap pameran "Affandi, The Human Face" itu, memberikan gambaran bagaimana para kolektor senior berinteraksi dengan para seniman, dan membantu para seniman berkarya dan berpameran.

"Koleksi suami saya Alex Papadimitriou, misalnya hasil interaksi puluhan tahun dengan para perupa, terjalin karena kecintaan yang sama kepada seni. Itulah mengapa kami bisa memiliki lukisan lama Affandi, yang diperkirakan dilukis pada tahun 1935 dan belum pernah dipamerkan. Semoga itu menginspirasi publik untuk mencintai seni rupa," kata Caecil. Di antara gempita jual-beli karya seni rupa, "Expose" dan "Affandi, The Human Face" sungguh berharga dan langka... 

Sumber : Kompas

0 Response to " Pameran Seni, Investasi Sosial-Kultural "

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.