Motif Ulos, "Ada Jiwa dalam Setiap Ulos"

Motif Ulos, "Ada Jiwa dalam Setiap Ulos"

Ulos Toba telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Pecinta Ulos

Naiknya pamor kain-kain Nusantara menggelitik para pencinta ulos, kain tradisional Batak di Sumatera Utara. Apalagi, pada 17 Oktober 2014, Ulos Toba telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Direktorat Internalisasi Nilai dan Diplomasi Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Beberapa orang yang merasa ulos penting terketuk hatinya, lalu bergerak dan mereka-reka kegiatan supaya ulos semakin dicintai banyak orang.

 ”Agustus tahun lalu saya menjelajah di dunia maya, lalu menemukan ulos sudah jadi warisan budaya nasional tak benda,” ujar Enni Martalena Pasaribu, Koordinator Komunitas Pencinta dan Pelestari Ulos, di Medan, Minggu (7/8). ”Lalu, muncul ide membuat acara peringatan Hari Ulos pada 17 Oktober, bertepatan dengan hari ulos ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda,” lanjutnya.

Ternyata ide itu banyak yang mendukung. Bersama teman-temannya, ia kemudian membuat acara peringatan Hari Ulos pada 17 Oktober 2015 di sebuah rumah di Jalan Sei Galang, Medan, yang juga menjadi kantor Punguan Si Raja Oloan (persatuan marga Si Raja Oloan) dan Persatuan Batak Indonesia.

Acaranya cukup ramai dihadiri sejumlah tokoh adat Batak. Selain ada pameran ulos dan peragaan busana produk tenun bermotif ulos, acara itu juga menghadirkan kembali makanan-makanan tradisional Batak. Manguji Nababan dari Pusat Dokumentasi dan Pengkajian Budaya Batak Universitas HKBP Nommensen, yang pada saat itu memberikan orasi budaya, mengatakan, ulos perlu dilestarikan dan direvitalisasi.

Selain untuk melindungi warisan leluhur, ulos juga perlu dimanfaatkan sesuai perkembangan zaman dan kesejahteraan pemilik budaya itu sendiri.

Mulai hari itulah cikal bakal komunitas berdiri dan terus berkembang. Keanggotaannya cair, siapa pun bisa ikut saat komunitas berkegiatan. Saat ini diperkirakan ada lebih dari 500 orang yang menjadi simpatisannya.

Ternyata, banyak orang tidak tahu sejarah ulos dan bagaimana penggunaannya. Banyak yang salah kaprah, bahkan ada yang menggunting ulos peninggalan ompungnya untuk dijadikan baju, lalu fotonya dipamerkan di media sosial. Ini membuat prihatin mereka yang tahu ulos. Fungsi ulos yang agung sebagai bagian dari ritus kebudayaan Batak telah banyak terdegradasi.

Pecinta dan Pelestari Ulos

Dalam diskusi ”Pencinta dan Pelestari Ulos” di Kantor Harian Kompas di Medan, awal Agustus, Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara Robert Sibarani mengatakan, awalnya, saat teknologi tenun ditemukan, ulos berfungsi sebagai pakaian. Selain sebagai kain, ulos juga digunakan sebagai penutup badan dan ikat kepala.

Dalam perkembangannya, ulos kemudian masuk menjadi bagian dari adat. Ulos diberikan oleh mereka yang berkedudukan tinggi atau pihak yang bisa menghangatkan tondi (jiwa) kepada mereka yang memasuki sebuah kehidupan baru.

Diskusi dihadiri para pencinta ulos, seperti desainer dan pembina penenun tradisional ulos Torang Sitorus, Anggota Dewan Perwakilan Daerah dari Sumut Parlindungan Purba, tokoh Batak Sumut RE Nainggolan, Manguji Nababan, Ketua Pelestari Budaya Sumut Is Sihotang, juga para tetua adat dan budaya Batak.

Menurut Torang Sitorus, ulos secara harfiah diartikan sebagai selimut. Ulos tidak hanya menghangatkan badan, tetapi juga tondi (jiwa) yang diselimutinya. Karena itu, proses pembuatannya pun lama, hingga berbulan-bulan.

Dulu, hampir semua perempuan bisa menenun. Penenun sudah tahu kepada siapa ulos akan diberikan sehingga proses pembuatannya disertai doa. Seorang ibu yang menenun ulos untuk anaknya pasti akan menyelipkan banyak doa dan harapan akan kehidupan yang baik kepada pemakainya.

Doa itu dimulai sejak seorang bayi ada dalam kandungan. Ibu si bayi akan mendapatkan ulos mula gabe agar proses persalinan berjalan lancar.

Saat perkawinan, mempelai yang memasuki hidup baru mendapatkan ulos hela. Ulos digunakan untuk mengikat perkawinan dan sebagai doa agar mempelai mendapat keturunan.

Saat kematian, jenazah pun diselimuti dengan ulos saput. Adapun janda/duda yang ditinggal diberikan ulos tujung atau ulos sampetua. Bahkan, ulos yang terbaik dibawa sampai ke kubur.

”Maka, kalau saya memakai ulos pemberian ibu, sepertinya ibu turut hadir dalam diri saya. Ada semangat yang saya rasakan. Demikian juga kalau ulos pemberian mertua saya pakai, sepertinya mertua hadir bersama saya,” ujar Enni.

Saat muncul alat tenun mesin, ulos pun diproduksi massal sehingga menurunkan derajat kesakralan ulos. Motif-motifnya tidak lagi bermakna. Ulos diperdagangkan murah. Kesakralannya terdegradasi.

Para penenun ulos tradisional pun terdesak. Diperkirakan ada lebih dari 100 jenis ulos, tetapi kini yang tersisa tinggal belasan. Kini, penenun mulai mengerjakan tenun bermotif ulos untuk fashion.

Para pencinta ulos pun mulai berpikir untuk mengembalikan adat tersebut. Pemberian ulos hanya dilakukan oleh mereka yang benar-benar berhak memberikannya. Mereka juga punya cita-cita menjadikan ulos sebagai warisan budaya dunia yang diakui UNESCO. 

Sumber : Kompas

0 Response to " Motif Ulos, "Ada Jiwa dalam Setiap Ulos" "

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.